PERGERAKAN NASIONAL

Bab 5.  Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia

A. Latar Belakang Tumbuhnya Kesadaran Nasional
1. Faktor Intern
a. Sejarah Masa Lampau yang Gemilang
Indonesia sebagai bangsa telah mengalami zaman nasional pada masa kebesaran Majapahit dan Sriwijaya. Kedua kerajaan
tersebut, terutama Majapahit memainkan peranan sebagai negara nasional yang wilayahnya meliputi hampir seluruh Nusantara.
Kebesaran ini membawa pikiran dan angan-angan bangsa Indonesia untuk senantiasa dapat menikmati kebesaran itu. Hal ini dapat
menggugah perasaan nasionalisme golongan terpelajar pada dekade awal abad XX.

b . Penderitaan Rakyat Akibat Penjajahan
Bangsa Indonesia mengalami masa penjajahan yang panjang dan menyakitkan sejak masa Portugis. Politik devide et impera, monopoli perdagangan, sistem tanam paksa, dan kerja rodi merupakan bencana bagi rakyat Indonesia. Penderitaan itu menjadikan rakyat  Indonesia muncul kesadaran nasionalnya dan mulai memahami perlunya menggalang persatuan. Atas prakarsa para kaum intelektual, persatuan itu dapat diwujudkan dalam bentuk perjuangan yang bersifat modern. Perjuangan tidak lagi menggunakan kekuatan senjata tetapi dengan menggunakan organisasi-organisasi pemuda.

c . Pengaruh Perkembangan Pendidikan Barat di Indonesia
Perkembangan sistem pendidikan pada masa Hindia Belanda tidak dapat dipisahkan dari politik etis. Ini berarti bahwa terjadinya perubahan di negeri jajahan (Indonesia) banyak dipengaruhi oleh keadaan yang terjadi di negeri Belanda. Tekanan datang dari Partai Sosial Demokrat yang di dalamnya ada van Deventer Mr. Courad Theodore van Deventer, pencetus Trilogi van Deventer
Perasaan akan timbulnya nasionalisme bangsa Indonesia telah tumbuh sejak lama, bukan secara tiba-tiba. Nasionalisme tersebut
masih bersifat kedaerahan, belum bersifat nasional. Nasionalisme yang bersifat menyeluruh dan meliputi semua wilayah Nusantara
baru muncul sekitar awal abad XX. Pada tahun 1899, Mr. Courad Theodore van Deventer melancarkan kritikan-kritikan yang tajam terhadap pemerintah penjajahan Belanda. Kritikan itu ditulis dan dimuat dalam jurnal Belanda, de Gids dengan judul Een eereschuld yang berarti hutang budi atau hutang kehormatan.

Apakah kalian masih ingat dengan isi Trilogi van Deventer? Politik yang diperjuangkan dalam rangka mengadakan kesejahteraan rakyat dikenal dengan nama politik etis. Untuk mendukung pelaksanaan politik etis, pemerintah Belanda mencanangkan Politik Asosiasi dengan semboyan unifikasi. Politik Asosiasi berkaitan dengan sikap damai dan menciptakan hubungan harmonis antara Barat (Belanda) dan Timur (rakyat pribumi). Dalam bidang pendidikan,

tujuan Belanda semula adalah untuk mendapatkan tenaga kerja atau pegawai murahan dan mandormandor yang dapat membaca dengan gaji yang murah. Untuk kepentingan tersebut Belanda mendirikan sekolah-sekolah untuk rakyat pribumi. Dengan demikian, jelaslah bahwa pelaksanaan politik etis tidak terlepas dari kepentingan pemerintah Belanda. Sistem pengajaran kolonial dibagi dalam dua jenis yaitu pengajaran pendidikan umum dan pengajaran kejuruan. Keduanya diselenggarakan untuk tingkat menengah ke atas. Berikut ini contoh-contoh sekolah yang didirikan pada zaman kolonial Belanda.

Munculnya sistem pendidikan kolonial ketika itu tidaklah berbanding lurus dengan kepentingan mencerdaskan kehidupan bangsa  Indonesia. Orientasi hasil pendidikan dirancang untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga bagi Hindia Belanda. Setelah dilaksanakan politik etis, banyak lembaga pendidikan mulai berdiri. Namun, ada beberapa hambatan masuk sekolah, seperti berikut.

1) Adanya perbedaan warna kulit (color line division).
2) Sistem pendidikan yang dikembangkan disesuaikan dengan status sosial masyarakat (Eropa, Timur Asing, atau bumi putera).
3) Bagi kelompok bumi putera masih dibedakan oleh status keturunan (bangsawan, priyayi, rakyat jelata).

Pendidikan kolonial pada awal abad ke-20 tumbuh cukup banyak terdiri atas beberapa tingkatan berikut.
1) Pendidikan Dasar
a) sekolah kelas satu seperti ELS (Europese Legerschool) dan HIS (Holandsch Inlandschool), untuk keturunan Indonesia asli golongan atas.
b) Sekolah Kelas dua, untuk golongan Indonesia asli kelas bawah.

2) Pendidikan Tingkat Menengah
a) HBS (Hogere Burger School) , MULO (Meer Uitegbreit Ondewijs) dan AMS (Algemene Middelbare school).
b) Sekolah Kejuruan, seperti Kweekschoolen (guru pribumi) dan Normaal School.
3) Pendidikan Tinggi
a) Pendidikan Tinggi Teknik (Koninklijk Instituut voor Hoger Technisch Ondewijs Nederlandsch Indie).
b) Sekolah Tinggi Hukum (Rechtschool).
c) Sekolah Tinggi Kedokteran, berkembang sejak dari nama Sekolah Dokter Jawa, STOVIA, NIAS dan GHS (Geeneeskundige    Hoogeschool).
d) Sekolah pelatihan untuk kepala atau pejabat pribumi, Hoofdenscholen, OSVIA (Opleidingsscholen voor Inlansche Ambtenaren)

d . Pengaruh Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia
Perkembangan pendidikan di Indonesia juga banyak diwarnai oleh pendidikan yang dikelola umat Islam. Ada tiga macam jenis pendidikan Islam di Indonesia yaitu pendidikan di surau atau langgar, pesantren, dan madrasah. Walaupun dasar pendidikan dan pengajarannya berlandaskan ilmu pengetahuan agama Islam, mata pelajaran umum lainnya juga mulai disentuh. Usaha pemerintah kolonial Belanda untuk memecah belah dan Kristenisasi tidak mampu meruntuhkan moral dan iman para santri.

        Tokoh-tokoh pergerakan nasional dan pejuang muslim pun bermunculan dari lingkungan ini. Banyak dari mereka menjadi  penggerak dan tulang punggung perjuangan kemerdekaan. Rakyat Indonesia yang mayoritas adalah kaum muslim ternyata merupakan salah satu unsur penting untuk menumbuhkan semangat nasionalisme Indonesia. Para pemimpin nasional yang bercorak Islam akan sangat mudah untuk memobilisasi kekuatan Islam dalam membangun kekuatan bangsa.

e. Pengaruh Perkembangan Pendidikan Kebangsaan di Indonesia
Berkembangnya sistem pendidikan Barat melahirkan golongan terpelajar. Adanya diskriminasi dalam pendidikan kolonial dan tidak  adanya kesempatan bagi penduduk pribumi untuk mengenyam pendidikan, mendorong kaum terpelajar untuk mendirikan sekolah  untuk kaum pribumi. Sekolah ini juga dikenal sebagai sekolah kebangsaan sebab bertujuan untuk menanamkan rasa nasionalisme di  kalangan rakyat dan mencetak generasi penerus yang terpelajar dan sadar akan nasib bangsanya. Selain itu sekolah tersebut terbuka bagi semua masyarakat pribumi dan tidak membedakan dari kalangan mana pun.

Tokoh-tokoh pribumi yang mendirikan sekolah kebangsaan :

1. Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa,

2. Douwes Dekker mendirikan Ksatrian School,

3. Moh. Syafei mendirikan perguruan Indonesische Nederlandsche School Kayu Tanam (INS Kayu Tanam).

1 ) Taman Siswa
Taman Siswa didirikan oleh Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922. Tujuan didirikannya
Taman Siswa adalah untuk mendidik dan menggembleng golongan muda serta menanamkan rasa cinta tanah air dan
semangat antipenjajahan. Taman Siswa berperan dalam menumbuhkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia. Meskipun menggunakan
sistem pendidikan modern Belanda, tetapi Taman Siswa tidak mengambil kepribadian Belanda. Dengan demikian, anak
didiknya tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Para guru Taman Siswa berasal dari para aktivis pergerakan
nasional. Taman Siswa memiliki tiga semboyan dalam melaksanakan proses pendidikan. Semboyan tersebut berasal dari bahasa Jawa dan mempunyai arti filosofi tentang peranan seseorang.

Tiga Semboyan Taman Siswa  :

a) Ing ngarso sung tuladha, artinya sebagai contoh suri teladan kepada mereka yang berada di tengah dan di belakang.
b) Ing madyo mangun karso, artinya jika berada di tengah-tengah kita harus mampu memberi semangat untuk kemajuan.
c) Tut wuri handayani, artinya jika di belakang kita harus mampu memberi dorongan.
Sumber: Ensiklopedia Umum Untuk Pelajar, 2005
2 ) Ksatrian School
Ksatrian Institut atau Ksatrian School didirikan di Bandung pada
tahun 1924 oleh Douwes Dekker atau Danudirjo Setyabudi. Tujuan
Ksatrian School adalah untuk memberi kesempatan belajar yang lebih
baik dan luas kepada anak-anak bumi putera. Selain itu untuk menumbuhkan
rasa harga diri manusia dan kepercayaan kepada diri
sendiri sebagai bangsa yang merdeka. Semboyan yang dipakai
adalah “Mengabdi Masa depan Rakyat.”
3 ) INS Kayu Tanam
INS Kayu Tanam didirikan oleh Mohammad Syafei pada tanggal
31 Oktober 1926. Tujuannya adalah untuk mendidik dan menanamkan
tradisi semangat kerja dan kemandirian. Dengan kemandirian
tersebut diharapkan golongan pemuda dapat menyadari akan arti
pentingnya semangat nasionalisme sebagai modal perjuangan
kemerdekaan. Asas INS Kayu Tanam adalah menolong diri sendiri.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.3 Ki Hajar
Dewantara, pendiri Taman
Siswa.
f. Dominasi Ekonomi Kaum Cina di Indonesia
Kaum pedagang keturunan nonpribumi, khususnya kaum
pedagang Cina semakin membuat kesal para pedagang pribumi.
Puncak kekesalan kaum pedagang pribumi terjadi ketika keturunan
Cina mendirikan perguruan sendiri yakni Tionghoa Hwee Kwan pada
tahun 1901.
130 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
Kekesalan tersebut diciptakan oleh Belanda untuk menimbulkan
rasa iri hati rakyat Indonesia kepada keturunan Cina. Cina diberi
kesempatan untuk menguasai bisnis eceran, pertokoan, dan menjadi
kolektor pajak dari pemerintah Belanda. Akibatnya kaum Cina
menjadi lebih agresif. Peristiwa itu membangkitkan persatuan yang
kokoh di antara sesama pedagang pribumi untuk menghadapi
secara bersama pengaruh dari pedagang Cina.
g. Peranan Bahasa Melayu
Di samping mayoritas beragama Islam, bangsa Indonesia
juga memiliki bahasa pergaulan umum (Lingua Franca) yakni
bahasa Melayu. Dalam perkembangannya, bahasa Melayu berubah
menjadi bahasa persatuan nasional Indonesia. Dengan posisi sebagai
bahasa pergaulan, bahasa Melayu menjadi sarana penting untuk
menyosialisasikan semangat kebangsaan dan nasionalisme ke
seluruh pelosok Indonesia.
h. Istilah Indonesia sebagai Identitas Nasional
Istilah ‘Indonesia‘ berasal dari kata India (bahasa Latin untuk
Hindia) dan kata nesos (bahasa Yunani untuk kepulauan), sehingga
kata Indonesia berarti Kepulauan Hindia. Istilah Indonesia,
Indonesisch dan Indonesier makin tersebar luas pemakaiannya setelah
banyak dipakai oleh kalangan ilmuwan seperti G.R. Logan, Adolf
Bastian, van Vollen Hoven, Snouck Hurgronje, dan lain-lain. Dalam
tabel berikut akan diuraikan perkembangan penggunaan istilah
Indonesia. Lihat tabel 5.3.
Tabel 5.3 Perkembangan Penggunaan Istilah Indonesia
J.R. Logan (1850) memakai nama Indonesia dalam arti geografi. Hal ini terlihat dari
karangannya yang berjudul “The ethnology of the Indian Achipelago”. Kata Indonesia digunakan
untuk menyebut pulau-pulau atau Kepulauan Hindia dan penduduknya adalah bangsa Indonesia.
Kata Indonesia dalam arti etnologi mulai digunakan pada tahun 1884 oleh Bastian, dalam
karangannya yang berjudul Indonesia Order die Inseln des Malagischen Archipels. Kata Indonesia
tidak lain adalah Kepulauan Melayu (Hindia).
Sejak itu, istilah Indonesia dipakai dalam ilmu etnologi, hukum adat, dan ilmu bahasa.
Dalam hal ini guru-guru besar Universitas Leiden seperti R.A. Kern, Snouck Hurgronje, van
Vollen Hoven, dan lain-lain berjasa sangat besar dalam menyebarkan kata Indonesie, Indonesier,
dan Indonesisch.
Pemakaian istilah Indonesia dalam pergerakan nasional dimulai dari para mahasiswa Indonesia
di negeri Belanda. Pada tahun 1908 para mahasiswa Indonesia di negeri Belanda mendirikan
organisasi yang bernama Indische Vereeniging. Seiring dengan penggunaan istilah Indonesia,
maka pada tahun 1922 berganti nama menjadi Indonesische Vereeniging, dan pada tahun 1924
berganti menjadi Perhimpunan Indonesia. Majalahnya yang semula bernama Hindia Poetra
juga berubah menjadi Indonesia Merdeka. Sejak saat itu kata Indonesia banyak dipakai oleh
organisasi-organisasi pergerakan di Indonesia.
Sebagai istilah pengetahuan, nama Indonesia makin populer dipakai di samping istilah
Nusantara, yaitu ketika Suwardi Suryaningrat mendirikan Biro Pers di Belanda yang diberi
nama Indonesisch Persbureau (tahun 1931).
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 131

Demikian halnya yang dialami oleh para mahasiswa dan pemuda masa itu. Mereka, khususnya mahasiswa STOVIA berusaha mengadakan perlawanan dengan cara yang halus mengingat cara pertempuran fisik selalu mengalami kegagalan. Berangkat dari kesadaran dan kemauan untuk melawan, maka mulai muncul berbagai organisasi pergerakan. Meskipun masingmasing organisasi memiliki asas dan cara perjuangan yang berbedabeda, mereka tetap mempunyai satu tujuan yaitu mencapai kemerdekaan. Kebulatan tekad para pemuda untuk bersatu mencapai puncaknya dengan dicetuskannya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Dapatkah kalian menyebutkan isi Sumpah pemuda 28 Oktober 1928?  Para Tokoh Perhimpunan Indonesia adalah Mohammad Hatta, Iwa Kusumasumantri, dan Sartono.
Penggunaan istilah Indonesia sebagai identitas nasional mencapai puncaknya pada Kongres
Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 yang mencetuskan kebulatan tekad dalam Sumpah Pemuda.
Sumpah Pemuda berisi tiga hal pokok yaitu bertanah air, berbangsa satu, dan berbahasa satu
yaitu Indonesia.
Usaha pemakaian kata Indonesia dalam arti politik ketatanegaraan dimulai pada tahun
1930. Ketika itu, Moh. Husni Thamrin mengajukan mosi yang berisi agar kata-kata Nederlandsch
- Indie dan Inlander dihapuskan dari undang-undang dan diganti dengan Indonesie, Indonesier,
dan Indonesisch. Namun ditolak oleh pemerintah Belanda.
Istilah Indonesia sebagai arti politik ketatanegaraan secara resmi digunakan pada masa
Revolusi Agustus 1945. Dan puncaknya ketika dikumandangkan Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia 17 Agustus 1945.
Sumber: Sejarah Nasional Indonesia V, 1993
2. Faktor Ekstern
Timbulnya pergerakan nasional Indonesia di
samping disebabkan oleh kondisi dalam negeri, juga
ada faktor yang berasal dari luar (ekstern). Berikut
ini faktor-faktor ekstern yang memberi dorongan dan
energi terhadap lahirnya pergerakan nasional di
Indonesia.
a. Kemenangan Jepang atas Rusia
Selama ini sudah menjadi suatu anggapan umum
jika keperkasaan Eropa (bangsa kulit putih) menjadi
simbol superioritas atas bangsa-bangsa lain dari
kelompok kulit berwarna. Hal itu ternyata bukan
suatu kenyataan sejarah. Perjalanan sejarah dunia
menunjukkan bahwa ketika pada tahun 1904-1905
terjadi peperangan antara Jepang melawan Rusia,
ternyata yang keluar sebagai pemenang dalam peperangan
itu adalah Jepang. Hal ini memberikan semangat
juang terhadap para pelopor pergerakan nasional di
Indonesia.
b . Partai Kongres India
Dalam melawan Inggris di India, kaum pergerakan
nasional di India membentuk All India National Congress
(Partai Kongres India), atas inisiatif seorang Inggris Allan
Octavian Hume pada tahun 1885. Di bawah kepemimpinan
Mahatma Gandhi, partai ini kemudian menetapkan garis
perjuangan yang meliputi Swadesi, Ahimsa, Satyagraha, dan
Hartal. Keempat ajaran Ghandi ini, terutama Satyagraha
mengandung makna yang memberi banyak inspirasi
terhadap perjuangan di Indonesia.
Sumber: Encarta Encyclopedia, 2006
Gambar 5.4 Mahatma Gandhi
salah satu tokoh All India
National Conggress.
Faktor-faktor yang menyebabkan
Jepang menang dalam perang
melawan Rusia yaitu:
a. Melakukan Meiji Restorasi,
melakukan perubahan strategi
politik luar negerinya dari
kebijakan pintu tertutup menjadi
pintu terbuka.
b. Memiliki semangat Bushido (jalan
ksatria).
Semangat ini di samping menunjukkan
kesetiaan kepada
Kaisar dan nasionalisme,
sekaligus menunjukkan suatu
etos kerja yang tinggi, penuh
dengan disiplin dan kerja keras.
Jeli Jendela Info
132 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
c . Filipina di bawah Jose Rizal
Filipina merupakan jajahan Spanyol yang
berlangsung sejak 1571 – 1898. Dalam perjalanan
sejarah Filipina muncul sosok tokoh yang bernama
Jose Rizal yang merintis pergerakan nasional dengan
mendirikan Liga Filipina. Pada tahun 1892 Jose Rizal
melakukan perlawanan bawah tanah terhadap
penindasan Spanyol. Tujuan yang ingin dicapai
adalah bagaimana membangkitkan nasionalisme
Filipina dalam menghadapi penjajahan Spanyol.
Dalam perjuangannya Jose Rizal dihukum mati pada tanggal
30 Desember 1896, setelah gagal dalam pemberontakan Katipunan.
Sikap patriotisme dan nasionalisme yang ditunjukkan Jose Rizal
membangkitkan semangat rela berkorban dan cinta tanah air bagi
para cendekiawan di Indonesia.
d . Gerakan Nasionalisme Cina
Dinasti Manchu (Dinasti Ching) memerintah di Cina sejak tahun
1644 sampai 1912. Dinasti ini dianggap dinasti asing oleh bangsa Cina
karena dinasti ini bukan keturunan bangsa Cina. Masuknya pengaruh
Barat menyebabkan munculnya gerakan rakyat yang menuduh bahwa
Dinasti Manchu sudah lemah dan bekerja sama dengan imperialis Barat.
Oleh karena itu muncul gerakan rakyat Cina untuk menentang
penguasa asing yaitu para imperialis Barat dan Dinansti Manchu yang
juga dianggap penguasa asing. Munculnya gerakan nasionalisme Cina
diawali dengan terjadinya pemberontakan Tai Ping (1850 – 1864) dan
kemudian disusul oleh pemberontakan Boxer. Gerakan ini ternyata
berimbas semangatnya di tanah air Indonesia.
e. Gerakan Turki Muda
Gerakan nasionalisme di Turki pada tahun 1908 dipimpin oleh
Mustafa Kemal Pasha. Gerakannya dinamakan Gerakan Turki
Muda. Ia menuntut adanya pembaruan dan modernisasi di segala
sektor kehidupan masyarakatnya. Gerakan Turki Muda memberikan
pengaruh politis bagi pergerakan bangsa Indonesia sebab
mengarah pada pembaruan-pembaruan dan modernisasi.
Novel perjuangan yang terkenal
karya Jose Rizal berjudul Noli Me
Tangere, yang berarti ‘jangan
singgung saya’. Novel ini membuat
pemerintah Spanyol tersinggung
dan marah. Untuk itu Jose Rizal
menjadi buron pemerintah Spanyol
di Filipina.
Jeli Jendela Info
1. Dalam proses pendidikan, Ki Hajar Dewantara mengembangkan tiga filosofi
kepemimpinan. Apa sajakah itu? Coba berilah contoh penerapan ketiga filosofi
tersebut dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan peran kalian sebagai
seorang pelajar!
2. Di antara ajaran-ajaran Mahatma Gandhi, ajaran Satyagraha mempunyai pengaruh
yang paling besar terhadap perkembangan pergerakan nasional Indonesia.
Mengapa? Coba diskusikan dengan teman sebangku kalian!
Ajang Kreasi
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 133
Masa pergerakan nasional di Indonesia ditandai dengan
berdirinya organisasi-organisasi pergerakan. Masa pergerakan
nasional (1908 – 1942), dibagi dalam tiga tahap berikut.
1. Masa pembentukan (1908 – 1920) berdiri organisasi seperti Budi
Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij.
2. Masa radikal/nonkooperasi (1920 – 1930), berdiri
organisasi seperti Partai Komunis Indonesia (PKI),
Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional
Indonesia (PNI).
3. Masa moderat/kooperasi (1930 – 1942), berdiri
organisasi seperti Parindra, Partindo, dan Gapi.
Di samping itu juga berdiri organisasi keagamaan,
organisasi pemuda, dan organisasi perempuan.
B. Perkembangan Pergerakan Nasional
1. Budi Utomo (BU)
Pada tahun 1906 Mas Ngabehi Wahidin Sudirohusodo,
merintis mengadakan kampanye menghimpun dana pelajar
(Studie Fund) di kalangan priyayi di Pulau Jawa. Upaya dr.
Wahidin ini bertujuan untuk meningkatkan martabat rakyat
dan membantu para pelajar yang kekurangan dana. Dari
kampanye tersebut akhirnya pada tanggal 20 Mei 1908 berdiri
organisasi Budi Utomo dengan ketuanya Dr. Sutomo.
Organisasi Budi Utomo artinya usaha mulia.
Pada mulanya Budi Utomo bukanlah sebuah partai politik.
Tujuan utamanya adalah kemajuan bagi Hindia Belanda. Hal
ini terlihat dari tujuan yang hendak dicapai yaitu perbaikan
pelajaran di sekolah-sekolah, mendirikan badan wakaf yang
mengumpulkan tunjangan untuk kepentingan belanja anakanak
bersekolah, membuka sekolah pertanian, memajukan
teknik dan industri, menghidupkan kembali seni dan
kebudayaan bumi putera, dan menjunjung tinggi cita-cita
kemanusiaan dalam rangka mencapai kehidupan rakyat yang
layak.
Kongres Budi Utomo yang pertama berlangsung di
Yogyakarta pada tanggal 3 Oktober – 5 Oktober 1908. Kongres
ini dihadiri beberapa cabang yaitu Bogor, Bandung, Yogya
I, Yogya II, Magelang, Surabaya, dan Batavia.
Dalam kongres yang pertama berhasil diputuskan beberapa
hal berikut.
a. Membatasi jangkauan geraknya kepada penduduk Jawa
dan Madura.
b. Tidak melibatkan diri dalam politik.
dr. Wahidin
Sudirohusodo, pencetus
berdirinya Budi Utomo.
Dr. Wahidin Sudirohusodo ( 1857-
1917) adalah inspirator bagi pembentukan
organisasi modern pertama
untuk kalangan priyayi Jawa.
Ia lulusan sekolah Dokter Jawa dan
bekerja sebagai dokter pemerintah
di Yogyakarta sampai tahun 1899.
Pada tahun 1901 menjadi redaktur
majalah Retno Dhoemilah “Ratna
yang berkilauan”.
Jeli Jendela Info
134 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
c. Bidang kegiatan adalah bidang pendidikan dan budaya.
d. Menyusun pengurus besar organisasi yang diketuai oleh R.T.
Tirtokusumo.
e. Merumuskan tujuan utama Budi Utomo yaitu kemajuan yang
selaras untuk negara dan bangsa.
Terpilihnya R.T. Tirtokusumo yang seorang bupati sebagai
ketua rupanya dimaksudkan agar lebih memberikan kekuatan pada
Budi Utomo. Kedudukan bupati memberi dampak positif dalam
rangka menggalang dana dan keanggotaan dari Budi Utomo. Untuk
usaha memantapkan keberadaan Budi Utomo diusahakan untuk
segera mendapatkan badan hukum dari pemerintah Belanda. Hal
ini terealisasi pada tanggal 28 Desember 1909, anggaran dasar Budi
Utomo disahkan.
Dalam perkembangannya, di tubuh Budi Utomo muncul dua
aliran berikut.
a. Pihak kanan, berkehendak supaya keanggotaan dibatasi pada
golongan terpelajar saja, tidak bergerak dalam lapangan politik
dan hanya membatasi pada pelajaran sekolah saja.
b. Pihak kiri, yang jumlahnya lebih kecil terdiri dari kaum muda
berkeinginan ke arah gerakan kebangsaan yang demokratis,
lebih memerhatikan nasib rakyat yang menderita.
Adanya dua aliran dalam tubuh Budi Utomo menyebabkan
terjadinya perpecahan. Dr. Cipto Mangunkusumo yang mewakili
kaum muda keluar dari keanggotaan. Akibatnya gerak Budi Utomo
semakin lamban. Berikut ini ada beberapa faktor yang menyebabkan
semakin lambannya Budi Utomo.
a. Budi Utomo cenderung memajukan pendidikan untuk
kalangan priyayi daripada penduduk umumnya.
b. Lebih mementingkan pemerintah kolonial Belanda daripada
kepentingan rakyat Indonesia.
c. Menonjolnya kaum priyayi yang lebih mengutamakan jabatan
menyebabkan kaum terpelajar tersisih.
Ketika meletus Perang Dunia I tahun 1914, Budi Utomo mulai
terjun dalam bidang politik. Berikut ini beberapa bentuk peran
politik Budi Utomo.
a. Melancarkan isu pentingnya pertahanan sendiri dari serangan
bangsa lain.
b. Menyokong gagasan wajib militer pribumi.
c. Mengirimkan komite Indie Weerbaar ke Belanda untuk
pertahanan Hindia.
d. Ikut duduk dalam Volksraad (Dewan Rakyat).
e. Membentuk Komite Nasional untuk menghadapi pemilihan
anggota volksraad.
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 135
Budi Utomo mampu menerbitkan majalah bulanan Goeroe Desa
yang memiliki kiprah masih terbatas di kalangan penduduk pribumi.
Sejalan dengan kemerosotan aktivitas dan dukungan pribumi pada
Budi Utomo, maka pada tahun 1935 Budi Utomo mengadakan fusi
ke dalam Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak itu BU terus
mengalami kemerosotan dan mundur dari arena politik.
2. Sarekat Islam (SI)
Pada mulanya Sarekat Islam adalah sebuah perkumpulan
para pedagang yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Pada
tahun 1911, SDI didirikan di kota Solo oleh H. Samanhudi
sebagai suatu koperasi pedagang batik Jawa. Garis yang
diambil oleh SDI adalah kooperasi, dengan tujuan memajukan
perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam. Keanggotaan
SDI masih terbatas pada ruang lingkup pedagang, maka tidak
memiliki anggota yang cukup banyak. Oleh karena itu agar
memiliki anggota yang banyak dan luas ruang lingkupnya, maka
pada tanggal 18 September 1912, SDI diubah menjadi SI (Sarekat
Islam).
Organisasi Sarekat Islam (SI) didirikan oleh
beberapa tokoh SDI seperti H.O.S Cokroaminoto,
Abdul Muis, dan H. Agus Salim. Sarekat Islam berkembang
pesat karena bermotivasi agama Islam.
Latar belakang ekonomi berdirinya Sarekat Islam
adalah:
a. perlawanan terhadap para pedagang perantara
(penyalur) oleh orang Cina,
b. isyarat pada umat Islam bahwa telah tiba waktunya
untuk menunjukkan kekuatannya, dan
c. membuat front melawan semua penghinaan
terhadap rakyat bumi putera.
Tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan anggaran
dasarnya adalah:
a. mengembangkan jiwa berdagang,
b. memberi bantuan kepada anggotanya yang mengalami kesukaran,
c. memajukan pengajaran dan semua yang mempercepat naiknya
derajat bumi putera,
d. menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang agama Islam,
e. tidak bergerak dalam bidang politik, dan
f. menggalang persatuan umat Islam hingga saling tolong menolong.
Kecepatan tumbuhnya SI bagaikan meteor dan meluas secara
horizontal. SI merupakan organisasi massa pertama di Indonesia.
Antara tahun 1917 sampai dengan 1920 sangat terasa pengaruhnya
di dalam politik Indonesia. Untuk menyebarkan propaganda
perjuangannya, Sarekat Islam menerbitkan surat kabar yang bernama
Utusan Hindia.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.7 H. Samanhudi,
pendiri SDI.
Perubahan SDI menjadi SI ini tidak
lepas dari luasnya wawasan Haji
Oemar Said Cokroaminoto sebagai
motor penggerak SI. Ia adalah
lulusan OSVIA, membangkitkan
khayalan massa rakyat tradisional
yang meramal ia sebagai Ratu Adil
‘raja yang adil’ mungkin sebagai
Prabu Erucakra, yaitu nama yang
sama dengan Cakra-aminata,
Cokroaminoto. Ratu Adil tradisional
yang sudah lama dinanti-nantikan.
Jeli Jendela Info
136 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
Pada tanggal 29 Maret 1913, para pemimpin SI mengadakan
pertemuan dengan Gubernur Jenderal Idenburg
untuk memperjuangkan SI berbadan hukum. Jawaban dari
Idenburg pada tanggal 29 Maret 1913, yaitu SI di bawah
pimpinan H.O.S Cokroaminoto tidak diberi badan hukum.
Ironisnya yang mendapat pengakuan pemerintah kolonial
Belanda (Gubernur Jenderal Idenburg) justru cabang-cabang
SI yang ada di daerah. Ini suatu taktik pemerintah kolonial
Belanda dalam memecah belah persatuan SI.
Bayangan perpecahan muncul dari pandangan yang
berbeda antara H.O.S Cokroaminoto dengan Semaun
mengenai kapitalisme. Menurut Semaun yang memiliki
pandangan sosialis, bergandeng dengan kapitalis adalah
haram. Dalam kongres SI yang dilaksanakan tahun 1921,
ditetapkan adanya disiplin partai rangkap anggota. Setiap
anggota SI tidak boleh merangkap sebagai anggota
organisasi lain terutama yang beraliran komunis. Akhirnya
SI pecah menjadi dua yaitu SI Putih dan SI Merah.
a. SI Putih, yang tetap berlandaskan nasionalisme dan
Islam. Dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminoto, H. Agus
Salim, dan Suryopranoto yang berpusat di Yogyakarta.
b. SI Merah, yang berhaluan sosialisme kiri (komunis).
Dipimpin oleh Semaun, yang berpusat di Semarang.
Dalam kongresnya di Madiun, SI Putih berganti nama
menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Kemudian pada tahun
1927 berubah lagi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia
(PSII). Sementara itu, SI Sosialis/Komunis berganti nama
menjadi Sarekat Rakyat (SR) yang merupakan pendukung
kuat Partai Komunis Indonesia (PKI).
3. Indische Partij (IP)
IP didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 di
Bandung oleh tokoh Tiga Serangkai, yaitu E.F.E Douwes
Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi
Suryaningrat. Pendirian IP ini dimaksudkan untuk
mengganti Indische Bond yang merupakan organisasi
orang-orang Indo dan Eropa di Indonesia. Hal ini disebabkan
adanya keganjilan-keganjilan yang terjadi
(diskriminasi) khususnya antara keturunan Belanda
totok dengan orang Belanda campuran (Indo).
IP sebagai organisasi campuran menginginkan
adanya kerja sama orang Indo dan bumi putera. Hal
ini disadari benar karena jumlah orang Indo sangat
sedikit, maka diperlukan kerja sama dengan orang
bumi putera agar kedudukan organisasinya makin
bertambah kuat.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.8 H.O.S.
Cokroaminoto, ketua SI.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.9 H. Agus Salim,
salah satu tokoh SI Putih.
Sumber: Sejarah Nasional Indonesia V,
1993
Gambar 5.10 Tiga Serangkai: Cipto
Mangunkusumo, Douwes Dekker,
dan Suwardi Suryaningrat.
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 137
Di samping itu juga disadari betapa pun baiknya usaha yang dibangun
oleh orang Indo, tidak akan mendapat tanggapan rakyat
tanpa adanya bantuan orang-orang bumi putera. Perlu diketahui
bahwa E.F.E Douwes Dekker dilahirkan dari keturunan campuran,
ayah Belanda, ibu seorang Indo.
Indische Partij merupakan satu-satunya organisasi pergerakan
yang secara terang-terangan bergerak di bidang politik dan ingin
mencapai Indonesia merdeka. Tujuan Indische Partij adalah untuk
membangunkan patriotisme semua indiers terhadap tanah air. IP
menggunakan media majalah Het Tijdschrifc dan surat kabar ‘De
Expres’ pimpinan E.F.E Douwes Dekker sebagai sarana untuk
membangkitkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air Indonesia.
Tujuan dari partai ini benar-benar revolusioner karena mau
mendobrak kenyataan politik rasial yang dilakukan pemerintah
kolonial. Tindakan ini terlihat nyata pada tahun 1913. Saat itu
pemerintah Belanda akan mengadakan peringatan 100 tahun bebasnya
Belanda dari tangan Napoleon Bonaparte (Prancis). Perayaan ini
direncanakan diperingati juga oleh pemerintah Hindia Belanda. Adalah
suatu yang kurang pas di mana suatu negara penjajah melakukan
upacara peringatan pembebasan dari penjajah pada suatu bangsa
yang dia sebagai penjajahnya. Hal yang ironis ini mendatangkan
cemoohan termasuk dari para pemimpin Indische Partij.
R.M. Suwardi Suryaningrat menulis artikel bernada sarkastis
yang berjudul ‘Als ik een Nederlander was’, Andaikan aku seorang
Belanda. Akibat dari tulisan itu R.M. Suwardi Suryaningrat
ditangkap. Menyusul sarkasme dari Dr. Cipto Mangunkusumo yang
dimuat dalam De Express tanggal 26 Juli 1913 yang diberi judul Kracht
of Vrees?, berisi tentang kekhawatiran, kekuatan, dan ketakutan.
Dr. Tjipto pun ditangkap, yang membuat rekan dalam Tiga
Serangkai, E.F.E. Douwes Dekker turut mengkritik dalam
tulisannya di De Express tanggal 5 Agustus 1913 yang berjudul Onze
Helden: Tjipto Mangoenkoesoemo en Soewardi Soerjaningrat, Pahlawan
kita: Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat.
Kecaman-kecaman yang menentang pemerintah Belanda
menyebabkan ketiga tokoh dari Indische Partij ditangkap. Pada
tahun 1913 mereka diasingkan ke Belanda. Namun pada tahun 1914
Cipto Mangunkusumo dikembalikan ke Indonesia karena sakit.
Sedangkan Suwardi Suryaningrat dan E.F.E. Douwes Dekker baru
kembali ke Indonesia pada tahun 1919. Suwardi Suryaningrat terjun
dalam dunia pendidikan, dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara,
mendirikan perguruan Taman Siswa. E.F.E Douwes Dekker juga
mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan mendirikan yayasan
pendidikan Ksatrian Institute di Sukabumi pada tahun 1940. Dalam
perkembangannya, E.F.E Douwes Dekker ditangkap lagi dan
dibuang ke Suriname, Amerika Latin.
138 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
4. Perhimpunan Indonesia dan Manifesto Politik
Pada tahun 1908 di Belanda berdiri sebuah
organisasi yang bernama Indische Vereeniging. Pelopor
pembentukan organisasi ini adalah Sutan Kasayangan
Soripada dan RM Noto Suroto. Para mahasiswa lain
yang terlibat dalam organisasi ini adalah R. Pandji
Sosrokartono, Gondowinoto, Notodiningrat, Abdul
Rivai, Radjiman Wediodipuro (Wediodiningrat), dan
Brentel. Tujuan dibentuknya Indische Vereeniging
adalah untuk memajukan kepentingan bersama dari
orang-orang yang berasal dari Indonesia.
Kedatangan tokoh-tokoh Indische Partij seperti
Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat, sangat
mempengaruhi perkembangan Indische Vereeniging. Masuk konsep
“Hindia Bebas” dari Belanda, dalam pembentukan negara Hindia
yang diperintah oleh rakyatnya sendiri. Perasaan anti-kolonialisme
semakin menonjol setelah ada seruan Presiden Amerika Serikat
Woodrow Wilson tentang kebebasan dalam menentukan nasib
sendiri pada negara-negara terjajah (The Right of Self Determination).
Dalam upaya berkiprah lebih jauh, organisasi ini memiliki
media komunikasi yang berupa majalah Hindia Poetra. Pada rapat
umum bulan Januari 1923, Iwa Kusumasumantri sebagai ketua baru
memberi penjelasan bahwa organisasi yang sudah dibenahi ini
mempunyai tiga asas pokok yang disebut juga Manifesto Politik, yaitu:
a. Indonesia ingin menentukan nasib sendiri,
b. agar dapat menentukan nasib sendiri, bangsa Indonesia harus
mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri, dan
c. dengan tujuan melawan Belanda bangsa Indonesia harus
bersatu.
Kegiatan Indische Vereeniging semakin tegas dan radikal, dan
telah berkembang ke arah politik. Sejalan dengan semakin meluasnya
pemakaian nama Indonesische, dirasa perlu untuk mengubah
nama organisasi menjadi Indonesische Vereeniging pada tahun 1924.
Majalah Hindia Poetra pun ikut berubah nama menjadi Indonesia
Merdeka.
Melalui rapat pada tanggal 3 Februari 1925 akhirnya Indonesische
Vereeniging diganti menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Semboyan
“Indonesia Merdeka” sudah menjadi slogan meskipun mengatakannya
dengan Bahasa Belanda.
Melalui media “Indonesia Merdeka” dan kegiatan internasional,
dunia internasional mengetahui aktivitas perjuangan para pemuda
Indonesia. Berikut ini kegiatan-kegiatan internasional yang diikuti
oleh PI.
R.M. Noto Suroto adalah putra
Pangeran Notodirodjo dari
keluarga Sri Paku Alam di
Yogyakarta. Ia lahir tahun 1888,
dan ketika perkumpulan didirikan
ia baru berusia 20 tahun. Ia seorang
pengarang yang mumpuni namun
bersikap pro-Belanda, sehingga
pada tahun 1924 ia dikeluarkan dari
Indonesische Vereeniging.
Jeli Jendela Info
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 139
a. Mengikuti Kongres ke-6 Liga Demokrasi
Internasional untuk Perdamaian di Paris pada
tahun 1926. Delegasi Perhimpunan Indonesia
dipimpin oleh Mohammad Hatta.
b. Mengikuti Kongres I Liga Penentang Imperialisme
dan Penindasan Kolonial di Berlin pada tahun
1927, mengirimkan Mohammad Hatta, Nasir
Pamuncak, Batot, dan Achmad Subardjo.
Dalam perjalanannya Perhimpunan Indonesia
mengalami banyak tekanan dari pemerintah Belanda,
lebih-lebih setelah terjadi pemberontakan Partai
Komunis Indonesia pada tahun 1926. Pengawasan dilakukan
semakin ketat. Meskipun demikian, pada tanggal 25 Desember 1926
Semaun bersama Mohammad Hatta menandatangani suatu
kesepakatan yang dikenal dengan Konvensi Hatta-Semaun.
Dalam kesepakatan itu ditekankan pada upaya Perhimpunan
Indonesia tetap pada garis perjuangan kebangsaan dan
diharapkan PKI dengan ormas-ormasnya tidak menghalanghalangi
Perhimpunan Indonesia dalam mewujudkan citacitanya.
Cita-cita Perhimpunan Indonesia tertuang dalam 4
pokok ideologi dengan memerhatikan masalah sosial, ekonomi
dengan menempatkan kemerdekaan sebagai tujuan politik yang
dikembangkan sejak tahun 1925. Keempat pokok ideologi
tersebut adalah kesatuan nasional, solidaritas, nonkooperasi,
dan swadaya.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.11 Mohammad
Hatta
5. Partai Komunis Indonesia (PKI)
Partai Komunis Indonesia (PKI) secara resmi
berdiri pada tanggal 23 Mei 1920. Berdirinya PKI
tidak terlepas dari ajaran Marxis yang dibawa oleh
Sneevliet. Ia bersama teman-temannya seperti
Brandsteder, H.W Dekker, dan P. Bergsma, mendirikan
Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) di
Semarang pada tanggal 4 Mei 1914. Tokoh-tokoh
Indonesia yang bergabung dalam ISDV antara lain
Darsono, Semaun, Alimin, dan lain-lain.
PKI terus berupaya mendapatkan pengaruh dalam masyarakat.
Salah satu upaya yang ditempuhnya adalah melakukan infiltrasi
dalam tubuh Sarekat Islam. Infiltrasi dapat dengan mudah dilakukan
karena ada beberapa faktor berikut.
a. Adanya kemelut dalam tubuh SI, di mana pemerintah Belanda
lebih memberi pengakuan kepada cabang Sarekat Islam lokal.
b. Adanya disiplin partai dalam SI, di mana anggota SI yang
merangkap anggota ISDV harus keluar dari SI. Akibatnya SI
terpecah menjadi SI Merah dan SI Putih.
Tentang penggunaan kata “Indonesia”
mula-mula adalah suatu konsep
akademis yang murni, telah dihidupkan
kembali oleh Indische
Vereeniging. Mereka menggunakan
nama Indonesia sebagai pengganti
kata yang dirasa merendahkan
derajat; Netherland-Indies (Hindia
Belanda), dan kata yang menjengkelkan
yaitu inlander (orang pribumi).
Jeli Jendela Info
Sneevliet, adalah seorang anggota
SDAP (Sociaal Democratische
Arbiderspartij) yaitu Partai Buruh
Sosial Demokrat. Ia dikirim ke
Indonesia. Pada mulanya tinggal
di Surabaya sebagai staf direksi
pada Soerabajaasch Handelsblad.
Dalam perkembangan kariernya
dia dipindahkan ke Semarang.
Jeli Jendela Info
140 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
Setelah berhasil menyusup dalam tubuh SI, jumlah anggota
PKI semakin besar. PKI berkembang pesat. Berikut ini ada beberapa
faktor yang menyebabkan PKI berkembang pesat.
a. Propagandanya yang sangat menarik.
b. Memiliki pemimpin yang berjiwa kerakyatan.
c. Pandai merebut massa rakyat yang tergabung dalam partai lain.
d. Sikapnya yang tegas terhadap pemerintah kolonial dan kapitalis.
e. Di kalangan rakyat terdapat harapan bahwa PKI bisa menggantikan
Ratu Adil.
Organisasi PKI makin kuat ketika pada bulan
Februari 1923 Darsono kembali dari Moskow.
Ditambah dengan tokoh-tokoh Alimin dan Musso,
maka peranan politik PKI semakin luas.
Pada tanggal 13 November 1926, Partai Komunis
Indonesia mengadakan pemberontakan di Jakarta,
Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Pemberontakan ini sangat sia-sia karena massa sama
sekali tidak siap di samping organisasinya masih
kacau. PKI telah mengorbankan ribuan orang yang
termakan hasutan untuk ikut serta dalam pemberontakan.
Dampak buruk lainnya yang menimpa para pejuang pergerakan
di tanah air adalah berupa pengekangan dan penindasan yang luar
biasa dari pemerintah Belanda sehingga sama sekali tidak punya
ruang gerak. Walaupun PKI dinyatakan sebagai partai terlarang
tetapi secara ilegal mereka masih melakukan kegiatan politiknya.
Semaun, Darsono, dan Alimin meneruskan propaganda untuk tetap
memperjuangkan aksi revolusioner di Indonesia.
6. Partai Nasional Indonesia (PNI)
Berdirinya partai-partai dalam pergerakan
nasional banyak berawal dari studie club. Salah
satunya adalah Partai Nasional Indonesia
(PNI).
Partai Nasional Indonesia (PNI) yang lahir
di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 tidak
terlepas dari keberadaan Algemeene Studie Club.
Lahirnya PNI juga dilatarbelakangi oleh situasi
sosio politik yang kompleks. Pemberontakan
PKI pada tahun 1926 membangkitkan semangat
untuk menyusun kekuatan baru dalam menghadapi
pemerintah kolonial Belanda. Rapat
pendirian partai ini dihadiri Ir. Soekarno, Dr. Cipto Mangunkusumo,
Soedjadi, Mr. Iskaq Tjokrodisuryo, Mr. Budiarto, dan Mr. Soenarjo.
Pada awal berdirinya, PNI berkembang sangat pesat karena
didorong oleh faktor-faktor berikut.
Sumber: Sejarah Nasional Indonesia V, 1993
Gambar 5.12 Ir. Soekarno dan kawan-kawan
di pengadilan Bandung.
Mereka yang terlibat pemberontakan
PKI dan ditangkap pemerintah
Belanda, diasingkan ke Tanah
Merah, Digul Atas di daerah Papua
sekarang. Ada sekitar 13.000 orang
yang ditangkap pemerintah Belanda,
4.500 orang di antaranya dihukum,
1.300 orang dibuang ke Digul.
Jeli Jendela Info
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 141
a. Pergerakan yang ada lemah sehingga kurang bisa menggerakkan
massa.
b. PKI sebagai partai massa telah dilarang.
c. Propagandanya menarik dan mempunyai orator ulung
yang bernama Ir. Soekarno (Bung Karno).
Untuk mengobarkan semangat perjuangan nasional, Bung
Karno mengeluarkan Trilogi sebagai pegangan perjuangan PNI.
Trilogi tersebut mencakup kesadaran nasional, kemauan
nasional, dan perbuatan nasional.
Tujuan PNI adalah mencapai Indonesia merdeka. Untuk
mencapai tujuan tersebut, PNI menggunakan tiga asas yaitu
self help (berjuang dengan usaha sendiri) dan nonmendiancy,
sikapnya terhadap pemerintah juga antipati dan nonkooperasi.
Dasar perjuangannya adalah marhaenisme.
Kongres Partai Nasional Indonesia yang pertama diadakan
di Surabaya, tanggal 27 – 30 Mei 1928. Kongres ini menetapkan
beberapa hal berikut.
1. Susunan program yang meliputi:
a. bidang politik untuk mencapai Indonesia merdeka,
b. bidang ekonomi dan sosial untuk memajukan pelajaran
nasional.
2. Menetapkan garis perjuangan yang dianut adalah nonkooperasi.
3. Menetapkan garis politik memperbaiki keadaan politik, ekonomi
dan sosial dengan kekuatan sendiri, antara lain dengan
mendirikan sekolah-sekolah, poliklinik-poliklinik, bank nasional,
perkumpulan koperasi, dan sebagainya.
Peranan PNI dalam pergerakan nasional Indonesia sangat
besar. Menyadari perlunya pernyataan segala potensi rakyat, PNI
memelopori berdirinya Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan
Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). PPPKI diikuti oleh PSII (Partai
Sarekat Islam Indonesia), Budi Utomo, Pasundan, Sumatranen Bond,
Kaum Betawi, Indonesische Studi Club, dan Algemeene Studie Club.
Berikut ini ada dua jenis tindakan yang dilaksanakan untuk
memperkokoh diri dan berpengaruh di masyarakat.
1. Ke dalam, mengadakan usaha-usaha dari dan untuk lingkungan
sendiri seperti mengadakan kursus-kursus, mendirikan
sekolah, bank dan sebagainya.
2. Keluar, dengan memperkuat opini publik terhadap tujuan PNI
antara lain melalui rapat-rapat umum dan penerbitan surat kabar
Banteng Priangan di Bandung, dan Persatuan Indonesia di
Jakarta.
Kegiatan PNI ini cepat menarik massa dan hal ini sangat
mencemaskan pemerintah kolonial Belanda. Pengawasan terhadap
kegiatan politik dilakukan semakin ketat bahkan dengan tindakantindakan
penggeledahan dan penangkapan.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2006
Gambar 5.13 Ir. Soekarno,
orator ulung yang berasal
dari PNI.
142 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
Dengan berkembangnya desas desus bahwa PNI akan mengadakan
pemberontakan, maka empat tokoh PNI yaitu Ir. Soekarno,
R. Gatot Mangkuprojo, Markun Sumodiredjo, dan Supriadinata
ditangkap dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan Bandung. Dalam
proses peradilan itu, Ir. Soekarno dengan kepiawaiannya melakukan
pembelaan yang diberi judul “Indonesia Menggugat”.
Penangkapan terhadap para tokoh pemimpin PNI merupakan
pukulan berat dan menggoyahkan keberlangsungan partai. Dalam
suatu kongres luar biasa yang diadakan di Jakarta pada tanggal
25 April 1931, diambil keputusan untuk membubarkan PNI. Pembubaran
ini menimbulkan pro dan kontra. Mr. Sartono kemudian
mendirikan Partindo. Mereka yang tidak setuju dengan pembubaran
masuk dalam Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru)
yang didirikan oleh Drs. Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir.
Baik Partindo maupun PNI Baru, masih memakai asas PNI
yang lama yaitu self help dan nonkooperasi. Namun di antara
keduanya terdapat perbedaan dalam hal strategi perjuangan.
PNI Baru lebih mengutaman pendidikan politik dan sosial,
sedangkan Partindo mengutamakan aksi massa sebagai senjata
yang tepat untuk mencapai kemerdekaan.
7. Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik
Kebangsaan Indonesia (PPPKI)
PPPKI dibentuk di Bandung pada tanggal 17 – 18 Desember
1927. Beranggotakan organisasi-organisasi seperti Partai Sarekat
Islam Indonesia (PSII), Budi Utomo (BU), PNI, Pasundan, Sumatranen
Bond, Kaum Betawi, dan Kaum Studi Indonesia. Tujuan dibentuknya
PPPKI yaitu:
a. menghindari segala perselisihan di antara anggota-anggotanya;
b. menyatukan organisasi, arah, serta cara beraksi dalam perjuangan
kemerdekaan Indonesia; dan
c. mengembangkan persatuan kebangsaan Indonesia.
Pembentukan organisasi PPPKI sebagai ide persatuan sejak
awal mengandung benih-benih kelemahan dan keretakan. Berikut
ini ada beberapa faktor yang menyebabkan keretakan tersebut.
a. Masing-masing anggota lebih mementingkan loyalitas pada
masing-masing kelompoknya.
b. Kurangnya kontrol pusat terhadap aktivitas lokal.
c. Perbedaan gaya perjuangan di antara organisasi-organisasi
anggota PPKI tersebut.
8. Partai Indonesia (Partindo)
Ketika Ir. Soekarno yang menjadi tokoh dalam PNI ditangkap
pada tahun 1929, maka PNI pecah menjadi dua yaitu Partindo dan
PNI Baru. Partindo didirikan oleh Sartono pada tahun 1929. Sejak
awal berdirinya Partindo memiliki banyak anggota dan terjun dalam
aksi-aksi politik menuju Indonesia Merdeka.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.14 Sutan
Syahrir
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 143
Dasar Partindo sama dengan PNI yaitu nasional. Tujuannya
adalah mencapai Indonesia merdeka. Asasnya pun juga sama yaitu
self help dan nonkooperasi.
Partindo semakin kuat setelah Ir. Soekarno bergabung ke
dalamnya pada tahun 1932, setelah dibebaskan dari penjara. Namun,
karena kegiatan-kegiatannya yang sangat radikal menyebabkan
pemerintah melakukan pengawasan yang cukup ketat. Karena tidak
bisa berkembang, maka tahun 1936 Partindo bubar.
9. Partai Indonesia Raya (Parindra)
Perjuangan radikal yang dilakukan oleh PKI, PI, dan PNI mulai
berakhir ketika pemerintah kolonial Belanda melakukan penangkapan
terhadap sejumlah tokoh PNI. Di samping itu pemerintah kolonial di
bawah Gubernur Jenderal de Jonge melakukan pengawasan yang ketat
terhadap organisasi-organisasi yang ada pada masa itu.
Melihat kondisi tersebut, para tokoh pergerakan mengubah garis
perjuangannya. Dari yang semula radikal dan nonkooperasi menjadi
moderat dan kooperasi dengan menempatkan wakilnya dalam
volksraad. Salah satu organisasi yang bersifat moderat adalah Partai
Indonesia Raya (Parindra).
Parindra didirikan di kota Solo oleh dr. Sutomo pada tanggal
26 Desember 1935. Parindra merupakan fusi dan Budi Utomo
dan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Tujuan Parindra adalah
mencapai Indonesia Raya.
Asas politik Parindra adalah insidental, artinya tidak berpegang
pada asas kooperasi maupun nonkooperasi. Sikapnya
terhadap pemerintah tergantung pada situasi dan kondisi yang
dihadapi, jadi luwes.
Tokoh-tokoh Parindra yang terkenal dalam membela
kepentingan rakyat di volksraad adalah Moh. Husni Thamrin.
Parindra berjuang agar wakil-wakil volksraad semakin bertambah
sehingga suara yang berhubungan dengan upaya
mencapai Indonesia merdeka semakin diperhatikan oleh
pemerintah Belanda. Perjuangan Parindra dalam volksraad
cukup berhasil, terbukti pemerintah Belanda mengganti istilah
inlandeer menjadi Indonesier.
10. Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)
Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) didirikan di Jakarta
pada tanggal 24 Mei 1937 oleh orang-orang bekas Partindo.
Tokoh-tokohnya antara lain Sartono, Sanusi Pane, dan Moh.
Yamin.
Dasar dan tujuannya adalah nasional dan mencapai
Indonesia Merdeka. Gerindo juga menganut asas insidental
yang sama dengan Parindra. Tujuan Gerindo antara lain:
a. mencapai Indonesia Merdeka,
b. memperkokoh ekonomi Indonesia,
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.15 Moh Husni
Thamrin, sangat terkenal
akan perjuangannya
dalam Volsraad
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.16 Moh. Yamin
144 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
c. mengangkat kesejahteraan kaum buruh, dan
d. memberi bantuan bagi kaum pengangguran.
11. Gabungan Politik Indonesia (Gapi)
Pada tanggal 15 Juli 1936, partai-partai politik dengan dipelopori
oleh Sutardjo Kartohadikusumo mengajukan usul atau petisi, yaitu
permohonan supaya diselenggarakan suatu musyawarah antara wakilwakil
Indonesia dan negara Belanda di mana anggotanya mempunyai
hak yang sama. Tujuannya adalah untuk menyusun suatu rencana
pemberian kepada Indonesia suatu pemerintah yang berdiri sendiri.
Namun usul tersebut ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda.
Adanya kekecewaan terhadap keputusan pemerintah Belanda
tersebut, atas prakarsa Moh. Husni Thamrin pada tanggal 21 Mei
1939, dibentuklah Gabungan Politik Indonesia (Gapi). Berikut ini
ada beberapa alasan yang mendorong terbentuknya Gapi.
a. Kegagalan petisi Sutarjo. Petisi ini berisi permohonan agar
diadakan musyawarah antara wakil-wakil Indonesia dan
Belanda. Tujuannya adalah agar bangsa Indonesia diberi
pemerintahan yang berdiri sendiri.
b. Kepentingan internasional akibat timbulnya fasisme.
c. Sikap pemerintah yang kurang memerhatikan kepentingan
bangsa Indonesia.
Tujuan Gapi adalah menuntut pemerintah Belanda agar
Indonesia mempunyai parlemen sendiri, sehingga Gapi mempunyai
semboyan Indonesia Berparlemen.
Tuntutan Indonesia Berparlemen terus diperjuangkan dengan
gigih. Akhirnya pemerintah Belanda membentuk komisi yang
dikenal dengan nama Komisi Visman karena diketuai oleh Dr.
F.H.Visman. Tugas komisi ini adalah menyelidiki dan mem-pelajari
perubahan-perubahan ketatanegaraan. Namun, setelah melakukan
penelitian, Komisi Visman mengeluarkan kesimpulan yang
mengecewakan bangsa Indonesia.
Menurut komisi tersebut, sebagian besar rakyat Indonesia
berkeinginan hidup dalam ikatan Kerajaan Belanda. Gapi
menolak keputusan tersebut, sebab dianggap hanya rekayasa
Belanda dan bertentangan dengan keinginan rakyat Indonesia.
12. Organisasi Keagamaan
Muhammadiyah adalah organisasi Islam modern yang
didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 oleh
K.H. Ahmad Dahlan. Muhammadiyah berarti umat Muhammad
atau pengikut Muhammad. Dengan nama ini memiliki harapan
dapat mencontoh segala jejak perjuangan dan pengabdian Nabi
Muhammad. Tujuan yang ingin dicapai adalah:
a. memajukan pengajaran berdasarkan agama Islam, dan
b. memupuk keimanan dan ketaqwaan para anggotanya.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.17 K.H. Ahmad
Dahlan
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 145
Dalam rangka mencapai tujuan itu, Muhammadiyah
melakukan beberapa upaya berikut.
a. Mendirikan sekolah-sekolah (bukan pondok
pesantren) dengan pengajaran agama dan
kurikulum yang modern.
b. Mendirikan rumah sakit dengan nama Pusat
Kesengsaraan Umum (PKU).
c. Mendirikan rumah yatim piatu.
d. Mendirikan perkumpulan kepanduan Hisbul
Wathan.
Dalam perkembangannya, Muhammadiyah
menghadapi tantangan dari golongan Islam konservatif.
Mereka melihat Muhammadiyah begitu terbuka terhadap
kebudayaan Barat sehingga khawatir kemurnian Islam akan
dirusakkan. Oleh karena itu para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama
pada tahun 1926. Gerakan NU dipelopori oleh K.H. Hasyim Asy’ari.
Gerakan Muhammadiyah banyak mendapat simpati termasuk
pemerintah kolonial Belanda karena perjuangannya tidak bersifat
konfrontatif (menentang). Dalam Kongres Muhammadiyah yang
berlangsung dari tanggal 12 – 17 Maret 1925 di Yogyakarta, diperbincangkan
masalah-masalah yang berkaitan dengan pengajaran
Islam, mass media Islam, dan buku-buku tentang Islam yang berbahasa
Jawa.
Di samping Muhammadiyah, gerakan keagamaan lain yang
memiliki andil bagi kemajuan bangsa antara lain, berikut ini.
a. Jong Islamienten Bond, berdiri tanggal 1 Januari 1925 di Jakarta.
b. Nahdlatul Ulama (NU), berdiri pada tanggal 31 Januari 1926
di Surabaya, Jawa Timur.
c. Nahdlatul Wathan, berdiri tahun 1932 di Pacor, Lombok Timur.
13. Organisasi Pemuda dan Wanita
Perkumpulan pemuda yang pertama berdiri adalah Tri Koro
Dharmo. Organisasi ini berdiri pada tanggal 7 Maret 1915 di Jakarta
atas petunjuk Budi Utomo. Diprakarsai oleh dr. Satiman Wirjosandjojo,
Kadarman, dan Sunardi. Mereka mufakat untuk mendirikan organisasi
kepemudaan yang anggotanya berasal dari siswa sekolah menengah
di Jawa dan Madura. Perkumpulan ini diberi nama Tri Koro Dharmo
yang berarti tiga tujuan mulia (sakti, budhi, bakti).
Dalam perkembangannya, Tri Koro Dharmo membuka cabang
di Surabaya. Dalam rangka mengefektifkan perjuangan, diterbitkan
sebuah majalah yang juga diberi nama Tri Koro Dharmo. Berikut
ini tujuan Tri Koro Dharmo secara nyata dalam anggaran dasarnya.
a. Ingin menghidupkan persatuan dan kesatuan, di antara pemuda
Jawa, Sunda, Madura, Bali, dan Lombok.
K.H. Achmad Dahlan (1868-1923)
mempunyai nama kecil Muhammad
Darwis. Pada tanggal 18 November
1912, saudagar batik itu mendirikan
organisasi Muhammadiyah. Mulamula
KH. A. Dahlan sendiri yang
menjalankan berbagai macam
pekerjaan seperti tabligh, mengajar
di sekolah Muhammadiyah, memimpin
pengajian, dan mengumpulkan
pakaian untuk si miskin.
Jeli Jendela Info
146 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
b. Kerja sama dengan semua organisasi pemuda guna membentuk
ke-Indonesia-an. Keanggotannya terbatas pada para pemuda
Jawa, Sunda, Madura, Bali dan Lombok.
Tri Koro Dharmo memiliki asas-asas seperti berikut.
a. Menimbulkan pertalian antara murid-murid bumi putera pada
sekolah dan kursus perguruan kejuruan.
b. Menambah pengetahuan umum bagi anggota-anggotanya.
c. Membangkitkan dan mempertajam bahasa dan budaya Indonesia.
Organisasi kepemudaan lainnya yang bersifat kedaerahan banyak
bermunculan seperti Pasundan, Jong Sumatranen Bond, Jong
Minahasa, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Celebes, Timorees
Ver Bond, PPPI (Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia),
Pemuda Indonesia, Jong Islamienten Bond, kepanduan, dan
sebagainya.
Di samping gerakan para pemuda, kaum wanita juga
tidak mau ketinggalan. Pergerakan wanita dipelopori oleh
R.A.Kartini dari Jepara dengan mendirikan Sekolah Kartini.
Perkumpulan wanita yang didirikan sebelum tahun 1920
antara lain Putri Mardika yang didirikan atas bantuan Budi
Utomo. Perkumpulan ini bertujuan untuk memajukan
pengajaran terhadap anak-anak perempuan dengan cara
memberi penerangan dan bantuan dana, mempertinggi sikap
yang merdeka, dan melenyapkan tindakan malu-malu yang
melampaui batas.
Perkumpulan Kautamaan Istri didirikan pada tahun
1913 di Tasikmalaya, lalu pada tahun 1916 di Sumedang,
Cianjur, dan tahun 1917 di Ciamis, menyusul di Cicurug
tahun 1918. Tokoh Kautamaan Istri yang terkenal adalah
Raden Dewi Sartika, seorang pengajar Kautamaan Istri
di tanah Pasundan.
Di Yogyakarta pada tahun 1912 didirikan perkumpulan
wanita yang benafaskan Islam dengan
nama Sopa Tresna, yang kemudian pada tahun 1914
menjadi bagian wanita dari Muhammadiyah dengan
nama Aisyah. Di Yogyakarta selain Aisyah juga
ada perkumpulan wanita yang bernama Wanito
Utomo, yang mulai memasukkan perempuan ke
dalam kegiatan dasar pekerjaan ke arah
emansipasi.
Di samping R.A.Kartini dan Dewi Sartika,
masih terdapat seorang tokoh wanita yaitu Ibu
Maria Walanda Maramis dari Minahasa. Beliau
mendirikan perkumpulan yang bernama Percintaan
Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT) pada tahun
1917. PIKAT dalam kegiatannya mendirikan
Sekolah Kepandaian Putri.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.18 R.A.Kartini,
pejuang emansipasi wanita
Indonesia.
Sumber: Album Pahlawan Bangsa, 2004
Gambar 5.19 Dewi Sartika dan Maria
Walanda Maramis, tokoh pergerakan
wanita Indonesia.
Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara
pada tanggal 21 April 1879. Beliau
berasal dari kalangan bangsawan
Jawa, Putri dari Bupati Jepara
Raden Mas Sosroningrat. R.A.
Kartini adalah pejuang emansipasi
wanita. Pemikirannya tertuang
dalam buku Habis gelap Terbitlah
Terang.
Jeli Jendela Info
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 147
Dalam perkembangannya, perkumpulan-perkumpulan wanita itu
melaksanakan kongres yang dikenal dengan ‘Kongres Perempuan
Indonesia”. Lihat tabel 5.4.
Tabel 5.4 Kongres Perempuan Indonesia
Kongres Perempuan Indonesia I
Kongres perempuan yang pertama ini dilaksanakan tanggal 22 –25 Desember 1928 di
Jakarta. Perkumpulan wanita yang mengikuti antara lain Wanito Utomo, Putri Indonesia,
Wanita Katolik, Wanita Mulya, Aisyah, Wanudyo Utomo, Jong Islamienten Bond, Jong
Java bagian wanita, dan Wanita Taman Siswa. Tujuan kongres pada dasarnya ingin
mempersatukan cita-cita dan usaha untuk memajukan wanita Indonesia. Di samping itu
juga adanya hasrat untuk mengadakan gabungan atau membentuk perikatan di antara
perkumpulan-perkumpulan wanita tersebut.
Hasil yang dicapai dalam kongres adalah pembentukan gabungan atau federasi
perkumpulan wanita dengan nama Perikatan Perempuan Indonesia (PPI) yang dipimpin
Ny. Sukanto. Tujuan dari PPI adalah:
1) memberi penerangan dan perantaraan kepada perkumpulan yang menjadi anggotanya,
2) membantu dana belajar pada anak perempuan yang pandai,
3) mengadakan kursus kesehatan,
4) menentang perkawinan anak-anak, dan
5) memajukan kepanduan bagi anak-anak perempuan.
PPI sendiri dalam kongresnya pada tanggal 28-31 Desember 1929 di Jakarta, mengubah
nama PPI menjadi PPII (Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia). PPII memiliki asas
kebangsaan, persamaan, jiwa sosial, dan persamaan hak di antara laki-laki dan perempuan.
Pada bulan Januari 1931 PPII mengikuti Kongres Perempuan se-Asia di Lahore dengan
mengirim Nona Sunaryati Sukemi dan Ny. Rukmini Santoso. Ini berarti untuk yang pertama
kalinya pergerakan wanita Indonesia dapat berhubungan dengan pergerakan wanita
internasional.
Kongres Perempuan Indonesia II
Kongres perempuan yang kedua diadakan di Jakarta pada tanggal 20 sampai 24 Juli
1935, atas inisiatif PPII. Kongres ini dipimpin oleh Ny. Sri Mangunsarkoro dengan agenda
pembicaraan:
1) soal perburuhan perempuan,
2) pemberantasan buta huruf, dan
3) perkawinan
Kongres tidak dapat menyatakan sikap kaitannya dengan pembicaraan masalah
Ordonansi perkawinan, karena anggaran dasar menuntut suara bulat dalam memutuskan
suatu prinsip. Hal yang dapat disepakati adalah diputuskannya penyelenggaraan Kongres
Perempuan Indonesia setiap 3 tahun sekali.
Kongres Perempuan Indonesia III
Tiga tahun kemudian yaitu pada tanggal 23 – 28 Juli 1938 berlangsung Kongres
Perempuan Indonesia III di Bandung dengan pimpinan Ny. Emma Puradireja. Kongres
membicarakan tentang:
1) Undang-undang perkawinan modern,
2) soal politik kaitannya hak pilih dan dipilih bagi kaum wanita untuk posisi Badan
Perwakilan (volksraad), dan
3) tanggal 22 Desember untuk disepakati diperingati sebagai Hari Ibu.
Sumber: http: //id.wikipedia.org /wiki/Hari _Ibu, 2008
148 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
14. Sumpah Pemuda
Sumpah pemuda, tidak dapat lepas dari organisasi kepemudaan
yang bernama PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) yang
didirikan pada tahun 1926. PPPI mendapat dukungan dari sejumlah
organisasi kepemudaan seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond,
Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Minahasa, Jong Batak, dan Jong
Islamienten Bond dengan penuh keyakinan ingin mencapai
tujuannya yaitu persatuan Indonesia.
Para pemuda ini menginginkan suatu upaya penyatuan peletakan
dasar untuk kemerdekaan dengan menentang ketidakadilan
yang dialami selama masa penjajahan. Pertemuan awal dilaksanakan
tanggal 15 November 1925 dengan membentuk panitia
Kongres Pemuda I, yang bertugas menyusun tujuan kongres.
Diputuskan pelaksanaan kongres I mulai tanggal 30 April sampai
dengan 2 Mei 1926.
Tujuan Kongres Pemuda I adalah membentuk badan sentral,
memajukan paham persatuan kebangsaan, dan mempererat
hubungan di antara semua perkumpulan pemuda kebangsaan. Hal
yang menjadi agenda pembicaraan adalah tentang usulan bahasa
Indonesia yaitu bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Mengenai
usulan fusi untuk semua perkumpulan pemuda, tidak ada keputusan.
Setelah berlangsungnya kongres pertama, para pemuda
semakin tergerak untuk menindaklanjuti dengan melakukan
kongres berikutnya. Oleh karena itu, setelah diawali pertemuan
pendahuluan terbentuklah susunan panitia seperti berikut.
Ketua : Sugondo Joyopuspito
Wakil ketua : Djoko Marsaid
Sekretaris : Mohammad Yamin
Bendahara : Amir Syarifudin
Pembantu : Djohan Tjain, Kotjo Sungkono, Senduk, J. Leimena,
Rohjani.
Kongres Pemuda II berlangsung sejak tanggal 27 Oktober 1928
dan berakhir tanggal 28 Oktober 1928. Kongres Pemuda II diadakan
sebanyak tiga kali rapat.
a. Rapat pertama, di gedung Katolik Jonglingen Bond di
Waterloopein.
b. Rapat kedua, tanggal 28 Oktober pagi, di gedung Oost Java
Bioscoop, di Koningsplein Noord.
c. Rapat ketiga, tanggal 28 Oktober malam, di gedung Indonesische
Clubhuis di Jl. Kramat Raya 106 Jakarta.
Di ruang utama gedung Indonesische Clubhuis (rumah
perkumpulan Indonesia), yang sejak tanggal 20 Mei 1974 ditetapkan
sebagai gedung Sumpah Pemuda, Sugondo Joyopuspito
membacakan hasil keputusan Kongres (Mail Report No. 1066x/28
No. J/302-Eigenhandig) sebagai berikut:
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 149
Pertama : Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe,
Tanah Indonesia.
Kedua : Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, Bangsa
Indonesia.
Ketiga : Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean,
Bahasa Indonesia.
Sumber: Ensiklopedia Umum Untuk Pelajar, 2005
Kongres menetapkan ikrar/sumpah pemuda yang
selanjutnya menjadi landasan perjuangan untuk mencapai
Indonesia merdeka. Pada malam itu juga, untuk pertama kali
diperdengarkan lagu Indonesia Raya oleh penggubahnya
Wage Rudolf Supratman.
Sebagai tindak lanjut dari Sumpah Pemuda 1928, pada
tanggal 24 – 28 Desember 1928 di Yogyakarta para pemuda
menyepakati pembentukan Komisi Besar Indonesia Muda
(KBIM). Tugas komisi ini adalah mempersiapkan terbentuknya
satu wadah bagi semua Pemuda Indonesia. Hasil
kerja komisi ini terlihat dalam kongres pemuda di Surakarta
pada tanggal 31 Desember 1936 yang berhasil membentuk
organisasi Indonesia Muda (IM), yang merupakan fusi
(peleburan) dari berbagai organisasi pemuda di Indonesia.
Asas IM adalah kebangsaan Indonesia dan bertujuan untuk
mewujudkan Indonesia Raya. Para anggota IM dilarang bekerja
sama dengan pemerintah Belanda (bersifat nonkooperatif).
* Lahirnya kesadaran nasional Indonesia dipengaruhi oleh dua faktor yaitu
faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang berasal
dari dalam misalnya kenangan kejayaan masa lampau, dan adanya
penderitaan rakyat akibat penjajahan. Sedang faktor ekstern adalah faktor
dari luar seperti kemenangan Jepang atas Rusia dan gerakan nasionalisme
di berbagai negara Asia.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.20 Wage Rudolf
Supratman
Untuk lebih memahami tentang peranan pemuda di masa pergerakan nasional, buatlah
kelompok yang beranggotakan 4 – 5 orang kemudian carilah buku referensi di
perpustakaan yang membahas peranan pemuda dan pelajar. Langkah selanjutnya
buatlah sebuah karangan yang berisi perbandingan peranan pemuda dan pelajar di
masa pergerakan nasional dengan di masa pembangunan sekarang ini. Kerjakanlah
pada buku tugas kalian masing-masing!
Ajang Kreasi
150 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
Renungkanlah!
* Adanya sebuah tekad dan kemauan yang kuat untuk bersatu dapat
mengalahkan kekuatan yang lebih besar sekali pun itu penguasa. Belajar
dari pengalaman para pemuda di masa pergerakan nasional, dengan
memiliki tekad yang kuat dan satu tujuan Indonesia merdeka, maka dapat
mengalahkan tekanan-tekanan dan kebijakan keras dari pemerintah
kolonial Belanda.
* Berbekal dari kebulatan tekad para pemuda dalam Sumpah Pemuda 28
Oktober 1928, sebagai pemuda dan pelajar kita harus menjaga persatuan
dan kesatuan bangsa agar keutuhan negara RI tetap terjaga.
* Pada masa pergerakan nasional muncul banyak organisasi pergerakan. Masa
pergerakan nasional di Indonesia dapat dibagi dalam tiga tahap berikut.
a. Masa pembentukan, berdiri organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat
Islam, dan Indische Partij.
b. Masa radikal, berdiri organisasi seperti Perhimpunan Indonesia, Partai
Komunis Indonesia, dan Partai Nasional Indonesia.
c. Masa bertahan, berdiri organisasi seperti Parindra, Gerindo, dan Gapi.
Di samping itu juga berdiri organisasi-organisasi keagamaan, organisasi
pemuda dan kepanduan, serta organisasi perempuan.
* Puncak dari perjuangan dan kebulatan tekad pemuda untuk bersatu terjadi
pada Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928 yang berhasil
mencetuskan Sumpah Pemuda yang isinya mengakui satu bangsa, satu
tanah air, dan satu bangsa yaitu Indonesia. Hal ini berarti mengakui istilahistilah
Indonesia sebagai suatu identitas nasional.
A. Pilihlah jawaban yang paling tepat!
1. Tujuan yang sebenarnya Belanda membuka sekolah kolonial adalah untuk
… .
a. membalas budi rakyat Indonesia
b. meningkatkan derajat rakyat pribumi sehingga Pax Netherlandica dapat
terwujud
c. memberi kesempatan kepada rakyat pribumi untuk mengenyam pendidikan
d. mencetak tenga pendidikan yang murah dan terampil
2. Trilogi van Deventer meliputi tiga sektor yaitu … .
a. emigrasi, irigasi, edukasi c. migrasi, irigasi, edukasi
b. transmigrasi, irigasi, edukasi d. imigrasi, irigasi, asosiasi
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 151
3. Faktor ekstern yang mendorong lahirnya pergerakan nasional Indonesia
adalah … .
a. kenangan kejayaan masa lampau
b. ajaran Gandhiisme dari India
c. pengaruh pendidikan kolonial di Indonesia
d. dominasi ekonomi kaum Cina di Indonesia
4. Majapahit sebagai bangsa nasional yang pertama menjadi salah satu faktor
intern yang mendorong lahirnya pergerakan nasional Indonesia. Hal itu
disebabkan oleh … .
a. memiliki armada tentara yang kuat
b. memiliki konstitusi yang sekarang ditiru dalam UUD 1945
c. terdiri dari berbagai macam agama
d. wilayahnya meliputi hampir seluruh wilayah Indonesia
5. Sekolah yang didirikan oleh para tokoh nasionalis sering juga disebut
dengan sekolah kebangsaan sebab … .
a. bertujuan untuk menanamkan rasa nasionalisme di kalangan rakyat
b. terbuka untuk kaum pribumi dan Indo-Eropa
c. tidak menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar
d. kurikulumnya merupakan perpaduan antara kurikulum lokal dan penjajah
6. Kemenangan Jepang atas Rusia memberikan pengaruh positif bagi
pergerakan nasional Indonesia sebab … .
a. Jepang sebagai bangssa Asia mampu mengalahkan Rusia sehingga
membangkitkan kepercayaan Indonesia akan kekuatan sendiri
b. Jepang membantu perjuangan bangsa Indonesia berupa persenjataan
c. Indonesia dapat meminta bantuan Jepang untuk mendesak Belanda
d. kekalahan Rusia menandai kekalahan bangsa Eropa seluruhnya
7. Dalam perkembangannya, Budi Utomo bergerak sangat lambat karena … .
a. tidak adanya dukungan dana dari kaum priyayi
b. pemerintah kolonial melakukan pengawasan yang cukup ketat
c. menonjolnya kaum priyayi yang mengutamakan jabatan
d. tidak bergerak dalam bidang politik
8. Sarekat Dagang Islam diganti menjadi Sarekat Islam pada tanggal 10 September
1912 dengan maksud … .
a. agar menjangkau keanggotaan yang lebih luas
b. ada penyegaran di bawah pimpinan H.O.S Cokroaminoto
c. menghindari perpecahan di tubuh SDI
d. agar segera mendapatkan status berbadan hukum
9. Alasan Sarekat Islam mengadakan disiplin partai pada tahun 1921 adalah
… .
a. keanggotaannya tidak berasal dari kaum pedagang saja
b. adanya infiltrasi komunis sosialis dari ISDV
c. anggotanya banyak berpihak kepada Belanda
d. adanya pertentangan antara golongan Islam dan sekuler
152 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
10. Tokoh pemimpin Indische Partij yang dikenal sebagai Tiga Serangkai yaitu … .
a. Suwardi Suryaningrat, Cipto Mangunkusumo, H.O.S Cokroaminoto
b. Suwardi Suryaningrat, H.O.S Cokroaminoto, E.F.E. Douwes Dekker
c. Suwardi Suryaningrat, Cipto Mangunkusumo, E.F.E. Douwes Dekker
d. Suwardi Suryaningrat, H.O.S Cokroaminoto, H. Agus Salim
11. Untuk memperkuat kedudukannya, PKI melakukan cara … .
a. mengadu domba antarorganisasi pergerakan
b. melakukan infiltrasi dalam tubuh Sarekat Islam
c. meminta pemerintah Belanda agar PKI diberi status badan hukum
d. melakukan penyerangan terhadap para tokoh nasionalis sayap kanan
12. Dalam melaksanakan kegiatannya, Muhammadiyah mendapat kelonggaran
dari pemerintah kolonial Belanda sebab … .
a. Belanda bersikap acuh terhadap gerakan Islam yang fundamentalis
b. keberadaannya banyak menguntungkan Belanda
c. kegiatan Muhammadiyah tidak bersifat politik
d. Muhammadiyah meningkatkan kesejahteraan rakyat
13. Berikut ini yang bukan merupakan alasan Perhimpunan Indonesia mengalami
banyak tekanan dari pemerintah kolonial adalah … .
a. sifatnya yang radikal dan nonkooperatif
b. adanya pemberontakan PKI tahun 1926
c. para pemimpinnya sering mengeluarkan kritik kepada pemerintah kolonial
d. mendapat bantuan dari komintern
14. Adanya penangkapan terhadap para pemimpin PNI memberi dampak pada … .
a. bubar (pecahnya) PNI menjadi Partindo dan PNI Baru
b. pemerintah kolonial melonggarkan pengawasan
c. semakin kuatnya tuntutan untuk merdeka
d. munculnya Gapi yang menginginkan Indonesia Berparlemen
15. Salah satu alasan dibentuknya Gapi adalah kegagalan petisi Sutarjo yang
berisi tentang … .
a. penghapusan dan penggantian istilah Inlander menjadi Indonesisch
b. penggunaaan bahasa Indonesia dalam volksraad
c. keinginan membentuk pemerintahan sendiri
d. tuntutan untuk menjadi persemakmuran Belanda
16. Pengaruh Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 bagi perjuangan bangsa Indonesia
adalah … .
a. membangkitkan kesadaran nasional
b. Belanda mulai bersikap lunak kepada para tokoh nasionalis
c. mempercepat proses kemerdekaan
d. memperkuat tekad pada pemuda untuk bersatu
17. Tujuan yang ingin dicapai Perikatan Perempuan Indonesia antara lain … .
a. memajukan kepanduan bagi anak-anak perempuan
b. mengirimkan wakil perempuan dalam volksraad
c. menyamakan kedudukan wanita sejajar dengan pria
d. memperjuangkan kebebasan kaum wanita dari penindasan kolonial
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 153
18. Parindra menggunakan asas insidental dalam gerak perjuangannya karena … .
a. beranggapan kerja sama dengan pemerintah kolonial sangat tidak
menguntungkan
b. ketatnya pengawasan pemerintah kolonial terhadap jalannya
pergerakan nasional
c. agar mendapat dukungan dari pemerintah kolonial
d. agar mudah mendapat simpati dari rakyat
19. Salah satu hasil keputusan Kongres Pemuda II yang dikenal sebagai ikrar/
sumpah pemuda yang benar adalah … .
a. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa
Indonesia
b. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air
Indonesia
c. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan,
bahasa Indonesia
d. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bangsa yang satu, bangsa
Indonesia
20. PPKI yang dibentuk sebagai ide persatuan ternyata akhirnya mengalami
keretakan yang disebabkan oleh faktor-faktor berikut, kecuali … .
a. adanya tekanan dari pemerintah kolonial Belanda
b. masing-masing anggota mementingkan kelompoknya sendiri
c. kurangnya kontrol pusat terhadap aktivitas lokal
d. perbedaan gaya perjuangan diantara anggota
B. Kerjakan soal-soal berikut!
1. Apakah tujuan Belanda membuka sekolah pada masa itu memang untuk
meningkatkan kecerdasan rakyat Indonesia? Uraikan pendapat kalian!
2. Mengapa kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1905 menjadi
pendorong lahirnya pergerakan nasional di Indonesia?
3. Mengapa pendidikan kebangsaan memegang peranan penting dalam
mencetak tokoh-tokoh pergerakan nasional?
4. Jelaskan latar belakang terbentuknya Sarekat Dagang Islam!
5. Mengapa tulisan R.M. Suwardi Suryaningrat yang berjudul als ik een Nederlander
was menyebabkan beliau ditangkap?
6. Sebutkan isi dari Manifesto Politik tahun 1925 yang dicetuskan oleh
Perhimpunan Indonesia!
7. Tunjukkan bukti bahwa SI merupakan organisasi massa pertama di Indonesia!
8. Bagaimanakah dampak kegagalan PKI tahun 1926 terhadap pergerakan
bangsa Indonesia?
9. Bagaimanakah peranan kaum perempuan dalam pergerakan nasional Indonesia?
Bandingkan dengan peranan kaum perempuan pada masa sekarang!
10. Jelaskan arti penting Sumpah Pemuda dalam kerangka sejarah Indonesia!
154 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
Penyimpangan sosial
Bentuk penyimpangan
Di keluarga Di masyarakat
Berdasarkan kadar
penyimpangan
* Penyimpangan primer
* Penyimpangan
sekunder
Berdasarkan sifatnya
* Penyimpangan
positif
* Penyimpangan
negatif
Berdasarkan pelaku
* Penyimpangan individu
* Penyimpangan kelompok
* Penyimpangan campuran
Menimbulkan bebagai bentuk penyakit
sosial dalam masyarakat
Upaya pencegahan perilaku
menyimpang di lingkungan rumah,
sekolah dan masyarakat
PETA KONSEP
BAB 6 PENYAKIT SOSIAL SEBAGAI AKIBAT
PENYIMPANGAN SOSIAL DAN UPAYA PENCEGAHANNYABab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 125
Tentu kalian masih ingat bukan dengan penderitaan rakyat pada
masa kolonial Belanda? Penderitaan rakyat itu diakibatkan adanya
berbagai kebijakan kolonial yang merugikan rakyat Indonesia.
Bagaimana perasaan kalian jika melihat rakyat kecil ditindas oleh
penjajah? Tentu merasa sakit dan ingin memberontak, bukan?
Demikian halnya yang dialami oleh para mahasiswa dan pemuda masa
itu. Mereka, khususnya mahasiswa STOVIA berusaha mengadakan
perlawanan dengan cara yang halus mengingat cara pertempuran fisik
selalu mengalami kegagalan.
Berangkat dari kesadaran dan kemauan untuk melawan, maka
mulai muncul berbagai organisasi pergerakan. Meskipun masingmasing
organisasi memiliki asas dan cara perjuangan yang berbedabeda,
mereka tetap mempunyai satu tujuan yaitu mencapai
kemerdekaan. Kebulatan tekad para pemuda untuk bersatu mencapai
puncaknya dengan dicetuskannya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Dapatkah kalian menyebutkan isi Sumpah pemuda 28 Oktober 1928?
Sumber: Ensiklopedia Umum untuk Pelajar, 2005
Gambar 5.1 Para Tokoh Perhimpunan Indonesia, diantaranya Mohammad
Hatta, Iwa Kusumasumantri, dan Sartono.
MUNCUL DAN
BERKEMBANGNYA
PERGERAKAN NASIONAL
INDONESIA 5
BAB
126 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
Latar Belakang Tumbuhnya Kesadaran
Nasional A.
1. Faktor Intern
a. Sejarah Masa Lampau yang Gemilang
Indonesia sebagai bangsa telah mengalami zaman nasional
pada masa kebesaran Majapahit dan Sriwijaya. Kedua kerajaan
tersebut, terutama Majapahit memainkan peranan sebagai negara
nasional yang wilayahnya meliputi hampir seluruh Nusantara.
Kebesaran ini membawa pikiran dan angan-angan bangsa Indonesia
untuk senantiasa dapat menikmati kebesaran itu. Hal ini dapat
menggugah perasaan nasionalisme golongan terpelajar pada dekade
awal abad XX.
b . Penderitaan Rakyat Akibat Penjajahan
Bangsa Indonesia mengalami masa penjajahan yang panjang
dan menyakitkan sejak masa Portugis. Politik devide et impera,
monopoli perdagangan, sistem tanam paksa, dan kerja rodi merupakan
bencana bagi rakyat Indonesia.
Penderitaan itu menjadikan rakyat Indonesia muncul kesadaran
nasionalnya dan mulai memahami perlunya menggalang persatuan.
Atas prakarsa para kaum intelektual, persatuan itu dapat diwujudkan
dalam bentuk perjuangan yang bersifat modern. Perjuangan
tidak lagi menggunakan kekuatan senjata tetapi dengan menggunakan
organisasi-organisasi pemuda.
c . Pengaruh Perkembangan Pendidikan Barat di Indonesia
Perkembangan sistem pendidikan pada masa Hindia
Belanda tidak dapat dipisahkan dari politik etis. Ini berarti
bahwa terjadinya perubahan di negeri jajahan (Indonesia)
banyak dipengaruhi oleh keadaan yang terjadi di negeri
Belanda. Tekanan datang dari Partai Sosial Demokrat yang di
dalamnya ada van Deventer. Sumber: http: //
id.wikipedia.org /wiki/
Courad_Theodore_van_Deventer
Gambar 5.2 Mr. Courad
Theodore van Deventer,
pencetus Trilogi van
Deventer
Perasaan akan timbulnya nasionalisme bangsa Indonesia telah
tumbuh sejak lama, bukan secara tiba-tiba. Nasionalisme tersebut
masih bersifat kedaerahan, belum bersifat nasional. Nasionalisme
yang bersifat menyeluruh dan meliputi semua wilayah Nusantara
baru muncul sekitar awal abad XX. Lahirnya nasionalisme bangsa
Indonesia didorong oleh dua faktor, baik faktor intern maupun faktor
ekstern.
Pada tahun 1899, Mr. Courad Theodore van Deventer
melancarkan kritikan-kritikan yang tajam terhadap pemerintah
penjajahan Belanda. Kritikan itu ditulis dan dimuat dalam
jurnal Belanda, de Gids dengan judul Een eereschuld yang berarti
hutang budi atau hutang kehormatan.
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 127
Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa kekosongan kas negeri
Belanda telah dapat diisi kembali berkat pengorbanan orang-orang
Indonesia. Oleh karena itu, Belanda telah berhutang budi kepada
rakyat Indonesia. Untuk itu harus dibayar dengan peningkatan
kesejahteraan melalui gagasannya yang dikenal dengan Trilogi van
Deventer. Apakah kalian masih ingat dengan isi Trilogi van Deventer?
Politik yang diperjuangkan dalam rangka mengadakan
kesejahteraan rakyat dikenal dengan nama politik etis. Untuk
mendukung pelaksanaan politik etis, pemerintah Belanda mencanangkan
Politik Asosiasi dengan semboyan unifikasi. Politik
Asosiasi berkaitan dengan sikap damai dan menciptakan hubungan
harmonis antara Barat (Belanda) dan Timur (rakyat pribumi).
Dalam bidang pendidikan, tujuan Belanda semula adalah untuk
mendapatkan tenaga kerja atau pegawai murahan dan mandormandor
yang dapat membaca dengan gaji yang murah. Untuk
kepentingan tersebut Belanda mendirikan sekolah-sekolah untuk
rakyat pribumi. Dengan demikian, jelaslah bahwa pelaksanaan
politik etis tidak terlepas dari kepentingan pemerintah Belanda.
Sistem pengajaran kolonial dibagi dalam dua jenis yaitu
pengajaran pendidikan umum dan pengajaran kejuruan. Keduanya
diselenggarakan untuk tingkat menengah ke atas. Berikut ini
contoh-contoh sekolah yang didirikan pada zaman kolonial Belanda.
Lihat tabel 5.1.
Tabel 5.1 Pendidikan yang Berkembang Pada Masa Kolonial
Munculnya sistem pendidikan kolonial ketika itu tidaklah berbanding lurus dengan
kepentingan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Orientasi hasil pendidikan
dirancang untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga bagi Hindia Belanda. Setelah
dilaksanakan politik etis, banyak lembaga pendidikan mulai berdiri. Namun, ada beberapa
hambatan masuk sekolah, seperti berikut.
1) Adanya perbedaan warna kulit (color line division).
2) Sistem pendidikan yang dikembangkan disesuaikan dengan status sosial masyarakat
(Eropa, Timur Asing, atau bumi putera).
3) Bagi kelompok bumi putera masih dibedakan oleh status keturunan (bangsawan, priyayi,
rakyat jelata).
Pendidikan kolonial pada awal abad ke-20 tumbuh cukup banyak terdiri atas beberapa
tingkatan berikut.
1) Pendidikan Dasar
a) ELS (Europese Legerschool) dan HIS (Holandsch Inlandschool), untuk keturunan Indonesia
asli golongan atas. Merupakan sekolah kelas satu.
b) Sekolah Kelas dua, untuk golongan Indonesia asli kelas bawah.
2) Pendidikan Tingkat Menengah
a) HBS (Hogere Burger School) , MULO (Meer Uitegbreit Ondewijs) dan AMS (Algemene
Middelbare school).
b) Sekolah Kejuruan, seperti Kweekschoolen (guru pribumi) dan Normaal School.
128 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
3) Pendidikan Tinggi
a) Pendidikan Tinggi Teknik (Koninklijk Instituut voor Hoger Technisch Ondewijs
Nederlandsch Indie).
b) Sekolah Tinggi Hukum (Rechtschool).
c) Sekolah Tinggi Kedokteran, berkembang sejak dari nama Sekolah Dokter Jawa,
STOVIA, NIAS dan GHS (Geeneeskundige Hoogeschool).
d) Sekolah pelatihan untuk kepala atau pejabat pribumi, Hoofdenscholen, OSVIA
(Opleidingsscholen voor Inlansche Ambtenaren)
Sumber: Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1.500 – 1900, 1999
d . Pengaruh Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia
Perkembangan pendidikan di Indonesia juga banyak diwarnai
oleh pendidikan yang dikelola umat Islam. Ada tiga macam jenis
pendidikan Islam di Indonesia yaitu pendidikan di surau atau
langgar, pesantren, dan madrasah. Walaupun dasar pendidikan dan
pengajarannya berlandaskan ilmu pengetahuan agama Islam, mata
pelajaran umum lainnya juga mulai disentuh.
Usaha pemerintah kolonial Belanda untuk memecah belah dan
Kristenisasi tidak mampu meruntuhkan moral dan iman para santri.
Tokoh-tokoh pergerakan nasional dan pejuang muslim pun bermunculan
dari lingkungan ini. Banyak dari mereka menjadi
penggerak dan tulang punggung perjuangan kemerdekaan.
Rakyat Indonesia yang mayoritas adalah kaum muslim ternyata
merupakan salah satu unsur penting untuk menumbuhkan semangat
nasionalisme Indonesia. Para pemimpin nasional yang bercorak
Islam akan sangat mudah untuk memobilisasi kekuatan Islam dalam
membangun kekuatan bangsa.
e. Pengaruh Perkembangan Pendidikan Kebangsaan di
Indonesia
Berkembangnya sistem pendidikan Barat melahirkan golongan
terpelajar. Adanya diskriminasi dalam pendidikan kolonial dan
tidak adanya kesempatan bagi penduduk pribumi untuk
mengenyam pendidikan, mendorong kaum terpelajar untuk
mendirikan sekolah untuk kaum pribumi. Sekolah ini juga dikenal
sebagai sekolah kebangsaan sebab bertujuan untuk menanamkan
rasa nasionalisme di kalangan rakyat dan mencetak generasi
penerus yang terpelajar dan sadar akan nasib bangsanya. Selain itu
sekolah tersebut terbuka bagi semua masyarakat pribumi dan tidak
membedakan dari kalangan mana pun.
Tokoh-tokoh pribumi yang mendirikan sekolah kebangsaan
antara lain Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa, Douwes
Dekker mendirikan Ksatrian School, dan Moh. Syafei mendirikan
perguruan Indonesische Nederlandsche School Kayu Tanam (INS Kayu
Tanam). Berikut ini akan dibahas sekolah-sekolah kebangsaan
tersebut.
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 129
1 ) Taman Siswa
Taman Siswa didirikan oleh Suwardi Suryaningrat atau
Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922. Tujuan didirikannya
Taman Siswa adalah untuk mendidik dan menggembleng
golongan muda serta menanamkan rasa cinta tanah air dan
semangat antipenjajahan.
Taman Siswa berperan dalam menumbuhkan rasa
nasionalisme bangsa Indonesia. Meskipun menggunakan
sistem pendidikan modern Belanda, tetapi Taman Siswa tidak
mengambil kepribadian Belanda. Dengan demikian, anak
didiknya tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
Para guru Taman Siswa berasal dari para aktivis pergerakan
nasional. Taman Siswa memiliki tiga semboyan dalam
melaksanakan proses pendidikan. Semboyan tersebut berasal
dari bahasa Jawa dan mempunyai arti filosofi tentang peranan
seseorang. Berikut ini ketiga semboyan tersebut. Lihat tabel 5.2.
Tabel 5.2 Tiga Semboyan Taman Siswa
a) Ing ngarso sung tuladha, artinya sebagai contoh suri teladan kepada mereka yang berada
di tengah dan di belakang.
b) Ing madyo mangun karso, artinya jika berada di tengah-tengah kita harus mampu memberi
semangat untuk kemajuan.
c) Tut wuri handayani, artinya jika di belakang kita harus mampu memberi dorongan.
Sumber: Ensiklopedia Umum Untuk Pelajar, 2005
2 ) Ksatrian School
Ksatrian Institut atau Ksatrian School didirikan di Bandung pada
tahun 1924 oleh Douwes Dekker atau Danudirjo Setyabudi. Tujuan
Ksatrian School adalah untuk memberi kesempatan belajar yang lebih
baik dan luas kepada anak-anak bumi putera. Selain itu untuk menumbuhkan
rasa harga diri manusia dan kepercayaan kepada diri
sendiri sebagai bangsa yang merdeka. Semboyan yang dipakai
adalah “Mengabdi Masa depan Rakyat.”
3 ) INS Kayu Tanam
INS Kayu Tanam didirikan oleh Mohammad Syafei pada tanggal
31 Oktober 1926. Tujuannya adalah untuk mendidik dan menanamkan
tradisi semangat kerja dan kemandirian. Dengan kemandirian
tersebut diharapkan golongan pemuda dapat menyadari akan arti
pentingnya semangat nasionalisme sebagai modal perjuangan
kemerdekaan. Asas INS Kayu Tanam adalah menolong diri sendiri.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.3 Ki Hajar
Dewantara, pendiri Taman
Siswa.
f. Dominasi Ekonomi Kaum Cina di Indonesia
Kaum pedagang keturunan nonpribumi, khususnya kaum
pedagang Cina semakin membuat kesal para pedagang pribumi.
Puncak kekesalan kaum pedagang pribumi terjadi ketika keturunan
Cina mendirikan perguruan sendiri yakni Tionghoa Hwee Kwan pada
tahun 1901.
130 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
Kekesalan tersebut diciptakan oleh Belanda untuk menimbulkan
rasa iri hati rakyat Indonesia kepada keturunan Cina. Cina diberi
kesempatan untuk menguasai bisnis eceran, pertokoan, dan menjadi
kolektor pajak dari pemerintah Belanda. Akibatnya kaum Cina
menjadi lebih agresif. Peristiwa itu membangkitkan persatuan yang
kokoh di antara sesama pedagang pribumi untuk menghadapi
secara bersama pengaruh dari pedagang Cina.
g. Peranan Bahasa Melayu
Di samping mayoritas beragama Islam, bangsa Indonesia
juga memiliki bahasa pergaulan umum (Lingua Franca) yakni
bahasa Melayu. Dalam perkembangannya, bahasa Melayu berubah
menjadi bahasa persatuan nasional Indonesia. Dengan posisi sebagai
bahasa pergaulan, bahasa Melayu menjadi sarana penting untuk
menyosialisasikan semangat kebangsaan dan nasionalisme ke
seluruh pelosok Indonesia.
h. Istilah Indonesia sebagai Identitas Nasional
Istilah ‘Indonesia‘ berasal dari kata India (bahasa Latin untuk
Hindia) dan kata nesos (bahasa Yunani untuk kepulauan), sehingga
kata Indonesia berarti Kepulauan Hindia. Istilah Indonesia,
Indonesisch dan Indonesier makin tersebar luas pemakaiannya setelah
banyak dipakai oleh kalangan ilmuwan seperti G.R. Logan, Adolf
Bastian, van Vollen Hoven, Snouck Hurgronje, dan lain-lain. Dalam
tabel berikut akan diuraikan perkembangan penggunaan istilah
Indonesia. Lihat tabel 5.3.
Tabel 5.3 Perkembangan Penggunaan Istilah Indonesia
J.R. Logan (1850) memakai nama Indonesia dalam arti geografi. Hal ini terlihat dari
karangannya yang berjudul “The ethnology of the Indian Achipelago”. Kata Indonesia digunakan
untuk menyebut pulau-pulau atau Kepulauan Hindia dan penduduknya adalah bangsa Indonesia.
Kata Indonesia dalam arti etnologi mulai digunakan pada tahun 1884 oleh Bastian, dalam
karangannya yang berjudul Indonesia Order die Inseln des Malagischen Archipels. Kata Indonesia
tidak lain adalah Kepulauan Melayu (Hindia).
Sejak itu, istilah Indonesia dipakai dalam ilmu etnologi, hukum adat, dan ilmu bahasa.
Dalam hal ini guru-guru besar Universitas Leiden seperti R.A. Kern, Snouck Hurgronje, van
Vollen Hoven, dan lain-lain berjasa sangat besar dalam menyebarkan kata Indonesie, Indonesier,
dan Indonesisch.
Pemakaian istilah Indonesia dalam pergerakan nasional dimulai dari para mahasiswa Indonesia
di negeri Belanda. Pada tahun 1908 para mahasiswa Indonesia di negeri Belanda mendirikan
organisasi yang bernama Indische Vereeniging. Seiring dengan penggunaan istilah Indonesia,
maka pada tahun 1922 berganti nama menjadi Indonesische Vereeniging, dan pada tahun 1924
berganti menjadi Perhimpunan Indonesia. Majalahnya yang semula bernama Hindia Poetra
juga berubah menjadi Indonesia Merdeka. Sejak saat itu kata Indonesia banyak dipakai oleh
organisasi-organisasi pergerakan di Indonesia.
Sebagai istilah pengetahuan, nama Indonesia makin populer dipakai di samping istilah
Nusantara, yaitu ketika Suwardi Suryaningrat mendirikan Biro Pers di Belanda yang diberi
nama Indonesisch Persbureau (tahun 1931).
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 131
Penggunaan istilah Indonesia sebagai identitas nasional mencapai puncaknya pada Kongres
Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 yang mencetuskan kebulatan tekad dalam Sumpah Pemuda.
Sumpah Pemuda berisi tiga hal pokok yaitu bertanah air, berbangsa satu, dan berbahasa satu
yaitu Indonesia.
Usaha pemakaian kata Indonesia dalam arti politik ketatanegaraan dimulai pada tahun
1930. Ketika itu, Moh. Husni Thamrin mengajukan mosi yang berisi agar kata-kata Nederlandsch
- Indie dan Inlander dihapuskan dari undang-undang dan diganti dengan Indonesie, Indonesier,
dan Indonesisch. Namun ditolak oleh pemerintah Belanda.
Istilah Indonesia sebagai arti politik ketatanegaraan secara resmi digunakan pada masa
Revolusi Agustus 1945. Dan puncaknya ketika dikumandangkan Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia 17 Agustus 1945.
Sumber: Sejarah Nasional Indonesia V, 1993
2. Faktor Ekstern
Timbulnya pergerakan nasional Indonesia di
samping disebabkan oleh kondisi dalam negeri, juga
ada faktor yang berasal dari luar (ekstern). Berikut
ini faktor-faktor ekstern yang memberi dorongan dan
energi terhadap lahirnya pergerakan nasional di
Indonesia.
a. Kemenangan Jepang atas Rusia
Selama ini sudah menjadi suatu anggapan umum
jika keperkasaan Eropa (bangsa kulit putih) menjadi
simbol superioritas atas bangsa-bangsa lain dari
kelompok kulit berwarna. Hal itu ternyata bukan
suatu kenyataan sejarah. Perjalanan sejarah dunia
menunjukkan bahwa ketika pada tahun 1904-1905
terjadi peperangan antara Jepang melawan Rusia,
ternyata yang keluar sebagai pemenang dalam peperangan
itu adalah Jepang. Hal ini memberikan semangat
juang terhadap para pelopor pergerakan nasional di
Indonesia.
b . Partai Kongres India
Dalam melawan Inggris di India, kaum pergerakan
nasional di India membentuk All India National Congress
(Partai Kongres India), atas inisiatif seorang Inggris Allan
Octavian Hume pada tahun 1885. Di bawah kepemimpinan
Mahatma Gandhi, partai ini kemudian menetapkan garis
perjuangan yang meliputi Swadesi, Ahimsa, Satyagraha, dan
Hartal. Keempat ajaran Ghandi ini, terutama Satyagraha
mengandung makna yang memberi banyak inspirasi
terhadap perjuangan di Indonesia.
Sumber: Encarta Encyclopedia, 2006
Gambar 5.4 Mahatma Gandhi
salah satu tokoh All India
National Conggress.
Faktor-faktor yang menyebabkan
Jepang menang dalam perang
melawan Rusia yaitu:
a. Melakukan Meiji Restorasi,
melakukan perubahan strategi
politik luar negerinya dari
kebijakan pintu tertutup menjadi
pintu terbuka.
b. Memiliki semangat Bushido (jalan
ksatria).
Semangat ini di samping menunjukkan
kesetiaan kepada
Kaisar dan nasionalisme,
sekaligus menunjukkan suatu
etos kerja yang tinggi, penuh
dengan disiplin dan kerja keras.
Jeli Jendela Info
132 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
c . Filipina di bawah Jose Rizal
Filipina merupakan jajahan Spanyol yang
berlangsung sejak 1571 – 1898. Dalam perjalanan
sejarah Filipina muncul sosok tokoh yang bernama
Jose Rizal yang merintis pergerakan nasional dengan
mendirikan Liga Filipina. Pada tahun 1892 Jose Rizal
melakukan perlawanan bawah tanah terhadap
penindasan Spanyol. Tujuan yang ingin dicapai
adalah bagaimana membangkitkan nasionalisme
Filipina dalam menghadapi penjajahan Spanyol.
Dalam perjuangannya Jose Rizal dihukum mati pada tanggal
30 Desember 1896, setelah gagal dalam pemberontakan Katipunan.
Sikap patriotisme dan nasionalisme yang ditunjukkan Jose Rizal
membangkitkan semangat rela berkorban dan cinta tanah air bagi
para cendekiawan di Indonesia.
d . Gerakan Nasionalisme Cina
Dinasti Manchu (Dinasti Ching) memerintah di Cina sejak tahun
1644 sampai 1912. Dinasti ini dianggap dinasti asing oleh bangsa Cina
karena dinasti ini bukan keturunan bangsa Cina. Masuknya pengaruh
Barat menyebabkan munculnya gerakan rakyat yang menuduh bahwa
Dinasti Manchu sudah lemah dan bekerja sama dengan imperialis Barat.
Oleh karena itu muncul gerakan rakyat Cina untuk menentang
penguasa asing yaitu para imperialis Barat dan Dinansti Manchu yang
juga dianggap penguasa asing. Munculnya gerakan nasionalisme Cina
diawali dengan terjadinya pemberontakan Tai Ping (1850 – 1864) dan
kemudian disusul oleh pemberontakan Boxer. Gerakan ini ternyata
berimbas semangatnya di tanah air Indonesia.
e. Gerakan Turki Muda
Gerakan nasionalisme di Turki pada tahun 1908 dipimpin oleh
Mustafa Kemal Pasha. Gerakannya dinamakan Gerakan Turki
Muda. Ia menuntut adanya pembaruan dan modernisasi di segala
sektor kehidupan masyarakatnya. Gerakan Turki Muda memberikan
pengaruh politis bagi pergerakan bangsa Indonesia sebab
mengarah pada pembaruan-pembaruan dan modernisasi.
Novel perjuangan yang terkenal
karya Jose Rizal berjudul Noli Me
Tangere, yang berarti ‘jangan
singgung saya’. Novel ini membuat
pemerintah Spanyol tersinggung
dan marah. Untuk itu Jose Rizal
menjadi buron pemerintah Spanyol
di Filipina.
Jeli Jendela Info
1. Dalam proses pendidikan, Ki Hajar Dewantara mengembangkan tiga filosofi
kepemimpinan. Apa sajakah itu? Coba berilah contoh penerapan ketiga filosofi
tersebut dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan peran kalian sebagai
seorang pelajar!
2. Di antara ajaran-ajaran Mahatma Gandhi, ajaran Satyagraha mempunyai pengaruh
yang paling besar terhadap perkembangan pergerakan nasional Indonesia.
Mengapa? Coba diskusikan dengan teman sebangku kalian!
Ajang Kreasi
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 133
Masa pergerakan nasional di Indonesia ditandai dengan
berdirinya organisasi-organisasi pergerakan. Masa pergerakan
nasional (1908 – 1942), dibagi dalam tiga tahap berikut.
1. Masa pembentukan (1908 – 1920) berdiri organisasi seperti Budi
Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij.
2. Masa radikal/nonkooperasi (1920 – 1930), berdiri
organisasi seperti Partai Komunis Indonesia (PKI),
Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional
Indonesia (PNI).
3. Masa moderat/kooperasi (1930 – 1942), berdiri
organisasi seperti Parindra, Partindo, dan Gapi.
Di samping itu juga berdiri organisasi keagamaan,
organisasi pemuda, dan organisasi perempuan.
B. Perkembangan Pergerakan Nasional
1. Budi Utomo (BU)
Pada tahun 1906 Mas Ngabehi Wahidin Sudirohusodo,
merintis mengadakan kampanye menghimpun dana pelajar
(Studie Fund) di kalangan priyayi di Pulau Jawa. Upaya dr.
Wahidin ini bertujuan untuk meningkatkan martabat rakyat
dan membantu para pelajar yang kekurangan dana. Dari
kampanye tersebut akhirnya pada tanggal 20 Mei 1908 berdiri
organisasi Budi Utomo dengan ketuanya Dr. Sutomo.
Organisasi Budi Utomo artinya usaha mulia.
Pada mulanya Budi Utomo bukanlah sebuah partai politik.
Tujuan utamanya adalah kemajuan bagi Hindia Belanda. Hal
ini terlihat dari tujuan yang hendak dicapai yaitu perbaikan
pelajaran di sekolah-sekolah, mendirikan badan wakaf yang
mengumpulkan tunjangan untuk kepentingan belanja anakanak
bersekolah, membuka sekolah pertanian, memajukan
teknik dan industri, menghidupkan kembali seni dan
kebudayaan bumi putera, dan menjunjung tinggi cita-cita
kemanusiaan dalam rangka mencapai kehidupan rakyat yang
layak.
Kongres Budi Utomo yang pertama berlangsung di
Yogyakarta pada tanggal 3 Oktober – 5 Oktober 1908. Kongres
ini dihadiri beberapa cabang yaitu Bogor, Bandung, Yogya
I, Yogya II, Magelang, Surabaya, dan Batavia.
Dalam kongres yang pertama berhasil diputuskan beberapa
hal berikut.
a. Membatasi jangkauan geraknya kepada penduduk Jawa
dan Madura.
b. Tidak melibatkan diri dalam politik.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.6 dr. Sutomo, ketua
organisasi Budi Utomo.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.5 dr. Wahidin
Sudirohusodo, pencetus
berdirinya Budi Utomo.
Dr. Wahidin Sudirohusodo ( 1857-
1917) adalah inspirator bagi pembentukan
organisasi modern pertama
untuk kalangan priyayi Jawa.
Ia lulusan sekolah Dokter Jawa dan
bekerja sebagai dokter pemerintah
di Yogyakarta sampai tahun 1899.
Pada tahun 1901 menjadi redaktur
majalah Retno Dhoemilah “Ratna
yang berkilauan”.
Jeli Jendela Info
134 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
c. Bidang kegiatan adalah bidang pendidikan dan budaya.
d. Menyusun pengurus besar organisasi yang diketuai oleh R.T.
Tirtokusumo.
e. Merumuskan tujuan utama Budi Utomo yaitu kemajuan yang
selaras untuk negara dan bangsa.
Terpilihnya R.T. Tirtokusumo yang seorang bupati sebagai
ketua rupanya dimaksudkan agar lebih memberikan kekuatan pada
Budi Utomo. Kedudukan bupati memberi dampak positif dalam
rangka menggalang dana dan keanggotaan dari Budi Utomo. Untuk
usaha memantapkan keberadaan Budi Utomo diusahakan untuk
segera mendapatkan badan hukum dari pemerintah Belanda. Hal
ini terealisasi pada tanggal 28 Desember 1909, anggaran dasar Budi
Utomo disahkan.
Dalam perkembangannya, di tubuh Budi Utomo muncul dua
aliran berikut.
a. Pihak kanan, berkehendak supaya keanggotaan dibatasi pada
golongan terpelajar saja, tidak bergerak dalam lapangan politik
dan hanya membatasi pada pelajaran sekolah saja.
b. Pihak kiri, yang jumlahnya lebih kecil terdiri dari kaum muda
berkeinginan ke arah gerakan kebangsaan yang demokratis,
lebih memerhatikan nasib rakyat yang menderita.
Adanya dua aliran dalam tubuh Budi Utomo menyebabkan
terjadinya perpecahan. Dr. Cipto Mangunkusumo yang mewakili
kaum muda keluar dari keanggotaan. Akibatnya gerak Budi Utomo
semakin lamban. Berikut ini ada beberapa faktor yang menyebabkan
semakin lambannya Budi Utomo.
a. Budi Utomo cenderung memajukan pendidikan untuk
kalangan priyayi daripada penduduk umumnya.
b. Lebih mementingkan pemerintah kolonial Belanda daripada
kepentingan rakyat Indonesia.
c. Menonjolnya kaum priyayi yang lebih mengutamakan jabatan
menyebabkan kaum terpelajar tersisih.
Ketika meletus Perang Dunia I tahun 1914, Budi Utomo mulai
terjun dalam bidang politik. Berikut ini beberapa bentuk peran
politik Budi Utomo.
a. Melancarkan isu pentingnya pertahanan sendiri dari serangan
bangsa lain.
b. Menyokong gagasan wajib militer pribumi.
c. Mengirimkan komite Indie Weerbaar ke Belanda untuk
pertahanan Hindia.
d. Ikut duduk dalam Volksraad (Dewan Rakyat).
e. Membentuk Komite Nasional untuk menghadapi pemilihan
anggota volksraad.
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 135
Budi Utomo mampu menerbitkan majalah bulanan Goeroe Desa
yang memiliki kiprah masih terbatas di kalangan penduduk pribumi.
Sejalan dengan kemerosotan aktivitas dan dukungan pribumi pada
Budi Utomo, maka pada tahun 1935 Budi Utomo mengadakan fusi
ke dalam Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak itu BU terus
mengalami kemerosotan dan mundur dari arena politik.
2. Sarekat Islam (SI)
Pada mulanya Sarekat Islam adalah sebuah perkumpulan
para pedagang yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Pada
tahun 1911, SDI didirikan di kota Solo oleh H. Samanhudi
sebagai suatu koperasi pedagang batik Jawa. Garis yang
diambil oleh SDI adalah kooperasi, dengan tujuan memajukan
perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam. Keanggotaan
SDI masih terbatas pada ruang lingkup pedagang, maka tidak
memiliki anggota yang cukup banyak. Oleh karena itu agar
memiliki anggota yang banyak dan luas ruang lingkupnya, maka
pada tanggal 18 September 1912, SDI diubah menjadi SI (Sarekat
Islam).
Organisasi Sarekat Islam (SI) didirikan oleh
beberapa tokoh SDI seperti H.O.S Cokroaminoto,
Abdul Muis, dan H. Agus Salim. Sarekat Islam berkembang
pesat karena bermotivasi agama Islam.
Latar belakang ekonomi berdirinya Sarekat Islam
adalah:
a. perlawanan terhadap para pedagang perantara
(penyalur) oleh orang Cina,
b. isyarat pada umat Islam bahwa telah tiba waktunya
untuk menunjukkan kekuatannya, dan
c. membuat front melawan semua penghinaan
terhadap rakyat bumi putera.
Tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan anggaran
dasarnya adalah:
a. mengembangkan jiwa berdagang,
b. memberi bantuan kepada anggotanya yang mengalami kesukaran,
c. memajukan pengajaran dan semua yang mempercepat naiknya
derajat bumi putera,
d. menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang agama Islam,
e. tidak bergerak dalam bidang politik, dan
f. menggalang persatuan umat Islam hingga saling tolong menolong.
Kecepatan tumbuhnya SI bagaikan meteor dan meluas secara
horizontal. SI merupakan organisasi massa pertama di Indonesia.
Antara tahun 1917 sampai dengan 1920 sangat terasa pengaruhnya
di dalam politik Indonesia. Untuk menyebarkan propaganda
perjuangannya, Sarekat Islam menerbitkan surat kabar yang bernama
Utusan Hindia.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.7 H. Samanhudi,
pendiri SDI.
Perubahan SDI menjadi SI ini tidak
lepas dari luasnya wawasan Haji
Oemar Said Cokroaminoto sebagai
motor penggerak SI. Ia adalah
lulusan OSVIA, membangkitkan
khayalan massa rakyat tradisional
yang meramal ia sebagai Ratu Adil
‘raja yang adil’ mungkin sebagai
Prabu Erucakra, yaitu nama yang
sama dengan Cakra-aminata,
Cokroaminoto. Ratu Adil tradisional
yang sudah lama dinanti-nantikan.
Jeli Jendela Info
136 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
Pada tanggal 29 Maret 1913, para pemimpin SI mengadakan
pertemuan dengan Gubernur Jenderal Idenburg
untuk memperjuangkan SI berbadan hukum. Jawaban dari
Idenburg pada tanggal 29 Maret 1913, yaitu SI di bawah
pimpinan H.O.S Cokroaminoto tidak diberi badan hukum.
Ironisnya yang mendapat pengakuan pemerintah kolonial
Belanda (Gubernur Jenderal Idenburg) justru cabang-cabang
SI yang ada di daerah. Ini suatu taktik pemerintah kolonial
Belanda dalam memecah belah persatuan SI.
Bayangan perpecahan muncul dari pandangan yang
berbeda antara H.O.S Cokroaminoto dengan Semaun
mengenai kapitalisme. Menurut Semaun yang memiliki
pandangan sosialis, bergandeng dengan kapitalis adalah
haram. Dalam kongres SI yang dilaksanakan tahun 1921,
ditetapkan adanya disiplin partai rangkap anggota. Setiap
anggota SI tidak boleh merangkap sebagai anggota
organisasi lain terutama yang beraliran komunis. Akhirnya
SI pecah menjadi dua yaitu SI Putih dan SI Merah.
a. SI Putih, yang tetap berlandaskan nasionalisme dan
Islam. Dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminoto, H. Agus
Salim, dan Suryopranoto yang berpusat di Yogyakarta.
b. SI Merah, yang berhaluan sosialisme kiri (komunis).
Dipimpin oleh Semaun, yang berpusat di Semarang.
Dalam kongresnya di Madiun, SI Putih berganti nama
menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Kemudian pada tahun
1927 berubah lagi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia
(PSII). Sementara itu, SI Sosialis/Komunis berganti nama
menjadi Sarekat Rakyat (SR) yang merupakan pendukung
kuat Partai Komunis Indonesia (PKI).
3. Indische Partij (IP)
IP didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 di
Bandung oleh tokoh Tiga Serangkai, yaitu E.F.E Douwes
Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi
Suryaningrat. Pendirian IP ini dimaksudkan untuk
mengganti Indische Bond yang merupakan organisasi
orang-orang Indo dan Eropa di Indonesia. Hal ini disebabkan
adanya keganjilan-keganjilan yang terjadi
(diskriminasi) khususnya antara keturunan Belanda
totok dengan orang Belanda campuran (Indo).
IP sebagai organisasi campuran menginginkan
adanya kerja sama orang Indo dan bumi putera. Hal
ini disadari benar karena jumlah orang Indo sangat
sedikit, maka diperlukan kerja sama dengan orang
bumi putera agar kedudukan organisasinya makin
bertambah kuat.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.8 H.O.S.
Cokroaminoto, ketua SI.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.9 H. Agus Salim,
salah satu tokoh SI Putih.
Sumber: Sejarah Nasional Indonesia V,
1993
Gambar 5.10 Tiga Serangkai: Cipto
Mangunkusumo, Douwes Dekker,
dan Suwardi Suryaningrat.
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 137
Di samping itu juga disadari betapa pun baiknya usaha yang dibangun
oleh orang Indo, tidak akan mendapat tanggapan rakyat
tanpa adanya bantuan orang-orang bumi putera. Perlu diketahui
bahwa E.F.E Douwes Dekker dilahirkan dari keturunan campuran,
ayah Belanda, ibu seorang Indo.
Indische Partij merupakan satu-satunya organisasi pergerakan
yang secara terang-terangan bergerak di bidang politik dan ingin
mencapai Indonesia merdeka. Tujuan Indische Partij adalah untuk
membangunkan patriotisme semua indiers terhadap tanah air. IP
menggunakan media majalah Het Tijdschrifc dan surat kabar ‘De
Expres’ pimpinan E.F.E Douwes Dekker sebagai sarana untuk
membangkitkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air Indonesia.
Tujuan dari partai ini benar-benar revolusioner karena mau
mendobrak kenyataan politik rasial yang dilakukan pemerintah
kolonial. Tindakan ini terlihat nyata pada tahun 1913. Saat itu
pemerintah Belanda akan mengadakan peringatan 100 tahun bebasnya
Belanda dari tangan Napoleon Bonaparte (Prancis). Perayaan ini
direncanakan diperingati juga oleh pemerintah Hindia Belanda. Adalah
suatu yang kurang pas di mana suatu negara penjajah melakukan
upacara peringatan pembebasan dari penjajah pada suatu bangsa
yang dia sebagai penjajahnya. Hal yang ironis ini mendatangkan
cemoohan termasuk dari para pemimpin Indische Partij.
R.M. Suwardi Suryaningrat menulis artikel bernada sarkastis
yang berjudul ‘Als ik een Nederlander was’, Andaikan aku seorang
Belanda. Akibat dari tulisan itu R.M. Suwardi Suryaningrat
ditangkap. Menyusul sarkasme dari Dr. Cipto Mangunkusumo yang
dimuat dalam De Express tanggal 26 Juli 1913 yang diberi judul Kracht
of Vrees?, berisi tentang kekhawatiran, kekuatan, dan ketakutan.
Dr. Tjipto pun ditangkap, yang membuat rekan dalam Tiga
Serangkai, E.F.E. Douwes Dekker turut mengkritik dalam
tulisannya di De Express tanggal 5 Agustus 1913 yang berjudul Onze
Helden: Tjipto Mangoenkoesoemo en Soewardi Soerjaningrat, Pahlawan
kita: Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat.
Kecaman-kecaman yang menentang pemerintah Belanda
menyebabkan ketiga tokoh dari Indische Partij ditangkap. Pada
tahun 1913 mereka diasingkan ke Belanda. Namun pada tahun 1914
Cipto Mangunkusumo dikembalikan ke Indonesia karena sakit.
Sedangkan Suwardi Suryaningrat dan E.F.E. Douwes Dekker baru
kembali ke Indonesia pada tahun 1919. Suwardi Suryaningrat terjun
dalam dunia pendidikan, dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara,
mendirikan perguruan Taman Siswa. E.F.E Douwes Dekker juga
mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan mendirikan yayasan
pendidikan Ksatrian Institute di Sukabumi pada tahun 1940. Dalam
perkembangannya, E.F.E Douwes Dekker ditangkap lagi dan
dibuang ke Suriname, Amerika Latin.
138 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
4. Perhimpunan Indonesia dan Manifesto Politik
Pada tahun 1908 di Belanda berdiri sebuah
organisasi yang bernama Indische Vereeniging. Pelopor
pembentukan organisasi ini adalah Sutan Kasayangan
Soripada dan RM Noto Suroto. Para mahasiswa lain
yang terlibat dalam organisasi ini adalah R. Pandji
Sosrokartono, Gondowinoto, Notodiningrat, Abdul
Rivai, Radjiman Wediodipuro (Wediodiningrat), dan
Brentel. Tujuan dibentuknya Indische Vereeniging
adalah untuk memajukan kepentingan bersama dari
orang-orang yang berasal dari Indonesia.
Kedatangan tokoh-tokoh Indische Partij seperti
Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat, sangat
mempengaruhi perkembangan Indische Vereeniging. Masuk konsep
“Hindia Bebas” dari Belanda, dalam pembentukan negara Hindia
yang diperintah oleh rakyatnya sendiri. Perasaan anti-kolonialisme
semakin menonjol setelah ada seruan Presiden Amerika Serikat
Woodrow Wilson tentang kebebasan dalam menentukan nasib
sendiri pada negara-negara terjajah (The Right of Self Determination).
Dalam upaya berkiprah lebih jauh, organisasi ini memiliki
media komunikasi yang berupa majalah Hindia Poetra. Pada rapat
umum bulan Januari 1923, Iwa Kusumasumantri sebagai ketua baru
memberi penjelasan bahwa organisasi yang sudah dibenahi ini
mempunyai tiga asas pokok yang disebut juga Manifesto Politik, yaitu:
a. Indonesia ingin menentukan nasib sendiri,
b. agar dapat menentukan nasib sendiri, bangsa Indonesia harus
mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri, dan
c. dengan tujuan melawan Belanda bangsa Indonesia harus
bersatu.
Kegiatan Indische Vereeniging semakin tegas dan radikal, dan
telah berkembang ke arah politik. Sejalan dengan semakin meluasnya
pemakaian nama Indonesische, dirasa perlu untuk mengubah
nama organisasi menjadi Indonesische Vereeniging pada tahun 1924.
Majalah Hindia Poetra pun ikut berubah nama menjadi Indonesia
Merdeka.
Melalui rapat pada tanggal 3 Februari 1925 akhirnya Indonesische
Vereeniging diganti menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Semboyan
“Indonesia Merdeka” sudah menjadi slogan meskipun mengatakannya
dengan Bahasa Belanda.
Melalui media “Indonesia Merdeka” dan kegiatan internasional,
dunia internasional mengetahui aktivitas perjuangan para pemuda
Indonesia. Berikut ini kegiatan-kegiatan internasional yang diikuti
oleh PI.
R.M. Noto Suroto adalah putra
Pangeran Notodirodjo dari
keluarga Sri Paku Alam di
Yogyakarta. Ia lahir tahun 1888,
dan ketika perkumpulan didirikan
ia baru berusia 20 tahun. Ia seorang
pengarang yang mumpuni namun
bersikap pro-Belanda, sehingga
pada tahun 1924 ia dikeluarkan dari
Indonesische Vereeniging.
Jeli Jendela Info
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 139
a. Mengikuti Kongres ke-6 Liga Demokrasi
Internasional untuk Perdamaian di Paris pada
tahun 1926. Delegasi Perhimpunan Indonesia
dipimpin oleh Mohammad Hatta.
b. Mengikuti Kongres I Liga Penentang Imperialisme
dan Penindasan Kolonial di Berlin pada tahun
1927, mengirimkan Mohammad Hatta, Nasir
Pamuncak, Batot, dan Achmad Subardjo.
Dalam perjalanannya Perhimpunan Indonesia
mengalami banyak tekanan dari pemerintah Belanda,
lebih-lebih setelah terjadi pemberontakan Partai
Komunis Indonesia pada tahun 1926. Pengawasan dilakukan
semakin ketat. Meskipun demikian, pada tanggal 25 Desember 1926
Semaun bersama Mohammad Hatta menandatangani suatu
kesepakatan yang dikenal dengan Konvensi Hatta-Semaun.
Dalam kesepakatan itu ditekankan pada upaya Perhimpunan
Indonesia tetap pada garis perjuangan kebangsaan dan
diharapkan PKI dengan ormas-ormasnya tidak menghalanghalangi
Perhimpunan Indonesia dalam mewujudkan citacitanya.
Cita-cita Perhimpunan Indonesia tertuang dalam 4
pokok ideologi dengan memerhatikan masalah sosial, ekonomi
dengan menempatkan kemerdekaan sebagai tujuan politik yang
dikembangkan sejak tahun 1925. Keempat pokok ideologi
tersebut adalah kesatuan nasional, solidaritas, nonkooperasi,
dan swadaya.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.11 Mohammad
Hatta
5. Partai Komunis Indonesia (PKI)
Partai Komunis Indonesia (PKI) secara resmi
berdiri pada tanggal 23 Mei 1920. Berdirinya PKI
tidak terlepas dari ajaran Marxis yang dibawa oleh
Sneevliet. Ia bersama teman-temannya seperti
Brandsteder, H.W Dekker, dan P. Bergsma, mendirikan
Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) di
Semarang pada tanggal 4 Mei 1914. Tokoh-tokoh
Indonesia yang bergabung dalam ISDV antara lain
Darsono, Semaun, Alimin, dan lain-lain.
PKI terus berupaya mendapatkan pengaruh dalam masyarakat.
Salah satu upaya yang ditempuhnya adalah melakukan infiltrasi
dalam tubuh Sarekat Islam. Infiltrasi dapat dengan mudah dilakukan
karena ada beberapa faktor berikut.
a. Adanya kemelut dalam tubuh SI, di mana pemerintah Belanda
lebih memberi pengakuan kepada cabang Sarekat Islam lokal.
b. Adanya disiplin partai dalam SI, di mana anggota SI yang
merangkap anggota ISDV harus keluar dari SI. Akibatnya SI
terpecah menjadi SI Merah dan SI Putih.
Tentang penggunaan kata “Indonesia”
mula-mula adalah suatu konsep
akademis yang murni, telah dihidupkan
kembali oleh Indische
Vereeniging. Mereka menggunakan
nama Indonesia sebagai pengganti
kata yang dirasa merendahkan
derajat; Netherland-Indies (Hindia
Belanda), dan kata yang menjengkelkan
yaitu inlander (orang pribumi).
Jeli Jendela Info
Sneevliet, adalah seorang anggota
SDAP (Sociaal Democratische
Arbiderspartij) yaitu Partai Buruh
Sosial Demokrat. Ia dikirim ke
Indonesia. Pada mulanya tinggal
di Surabaya sebagai staf direksi
pada Soerabajaasch Handelsblad.
Dalam perkembangan kariernya
dia dipindahkan ke Semarang.
Jeli Jendela Info
140 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
Setelah berhasil menyusup dalam tubuh SI, jumlah anggota
PKI semakin besar. PKI berkembang pesat. Berikut ini ada beberapa
faktor yang menyebabkan PKI berkembang pesat.
a. Propagandanya yang sangat menarik.
b. Memiliki pemimpin yang berjiwa kerakyatan.
c. Pandai merebut massa rakyat yang tergabung dalam partai lain.
d. Sikapnya yang tegas terhadap pemerintah kolonial dan kapitalis.
e. Di kalangan rakyat terdapat harapan bahwa PKI bisa menggantikan
Ratu Adil.
Organisasi PKI makin kuat ketika pada bulan
Februari 1923 Darsono kembali dari Moskow.
Ditambah dengan tokoh-tokoh Alimin dan Musso,
maka peranan politik PKI semakin luas.
Pada tanggal 13 November 1926, Partai Komunis
Indonesia mengadakan pemberontakan di Jakarta,
Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Pemberontakan ini sangat sia-sia karena massa sama
sekali tidak siap di samping organisasinya masih
kacau. PKI telah mengorbankan ribuan orang yang
termakan hasutan untuk ikut serta dalam pemberontakan.
Dampak buruk lainnya yang menimpa para pejuang pergerakan
di tanah air adalah berupa pengekangan dan penindasan yang luar
biasa dari pemerintah Belanda sehingga sama sekali tidak punya
ruang gerak. Walaupun PKI dinyatakan sebagai partai terlarang
tetapi secara ilegal mereka masih melakukan kegiatan politiknya.
Semaun, Darsono, dan Alimin meneruskan propaganda untuk tetap
memperjuangkan aksi revolusioner di Indonesia.
6. Partai Nasional Indonesia (PNI)
Berdirinya partai-partai dalam pergerakan
nasional banyak berawal dari studie club. Salah
satunya adalah Partai Nasional Indonesia
(PNI).
Partai Nasional Indonesia (PNI) yang lahir
di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 tidak
terlepas dari keberadaan Algemeene Studie Club.
Lahirnya PNI juga dilatarbelakangi oleh situasi
sosio politik yang kompleks. Pemberontakan
PKI pada tahun 1926 membangkitkan semangat
untuk menyusun kekuatan baru dalam menghadapi
pemerintah kolonial Belanda. Rapat
pendirian partai ini dihadiri Ir. Soekarno, Dr. Cipto Mangunkusumo,
Soedjadi, Mr. Iskaq Tjokrodisuryo, Mr. Budiarto, dan Mr. Soenarjo.
Pada awal berdirinya, PNI berkembang sangat pesat karena
didorong oleh faktor-faktor berikut.
Sumber: Sejarah Nasional Indonesia V, 1993
Gambar 5.12 Ir. Soekarno dan kawan-kawan
di pengadilan Bandung.
Mereka yang terlibat pemberontakan
PKI dan ditangkap pemerintah
Belanda, diasingkan ke Tanah
Merah, Digul Atas di daerah Papua
sekarang. Ada sekitar 13.000 orang
yang ditangkap pemerintah Belanda,
4.500 orang di antaranya dihukum,
1.300 orang dibuang ke Digul.
Jeli Jendela Info
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 141
a. Pergerakan yang ada lemah sehingga kurang bisa menggerakkan
massa.
b. PKI sebagai partai massa telah dilarang.
c. Propagandanya menarik dan mempunyai orator ulung
yang bernama Ir. Soekarno (Bung Karno).
Untuk mengobarkan semangat perjuangan nasional, Bung
Karno mengeluarkan Trilogi sebagai pegangan perjuangan PNI.
Trilogi tersebut mencakup kesadaran nasional, kemauan
nasional, dan perbuatan nasional.
Tujuan PNI adalah mencapai Indonesia merdeka. Untuk
mencapai tujuan tersebut, PNI menggunakan tiga asas yaitu
self help (berjuang dengan usaha sendiri) dan nonmendiancy,
sikapnya terhadap pemerintah juga antipati dan nonkooperasi.
Dasar perjuangannya adalah marhaenisme.
Kongres Partai Nasional Indonesia yang pertama diadakan
di Surabaya, tanggal 27 – 30 Mei 1928. Kongres ini menetapkan
beberapa hal berikut.
1. Susunan program yang meliputi:
a. bidang politik untuk mencapai Indonesia merdeka,
b. bidang ekonomi dan sosial untuk memajukan pelajaran
nasional.
2. Menetapkan garis perjuangan yang dianut adalah nonkooperasi.
3. Menetapkan garis politik memperbaiki keadaan politik, ekonomi
dan sosial dengan kekuatan sendiri, antara lain dengan
mendirikan sekolah-sekolah, poliklinik-poliklinik, bank nasional,
perkumpulan koperasi, dan sebagainya.
Peranan PNI dalam pergerakan nasional Indonesia sangat
besar. Menyadari perlunya pernyataan segala potensi rakyat, PNI
memelopori berdirinya Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan
Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). PPPKI diikuti oleh PSII (Partai
Sarekat Islam Indonesia), Budi Utomo, Pasundan, Sumatranen Bond,
Kaum Betawi, Indonesische Studi Club, dan Algemeene Studie Club.
Berikut ini ada dua jenis tindakan yang dilaksanakan untuk
memperkokoh diri dan berpengaruh di masyarakat.
1. Ke dalam, mengadakan usaha-usaha dari dan untuk lingkungan
sendiri seperti mengadakan kursus-kursus, mendirikan
sekolah, bank dan sebagainya.
2. Keluar, dengan memperkuat opini publik terhadap tujuan PNI
antara lain melalui rapat-rapat umum dan penerbitan surat kabar
Banteng Priangan di Bandung, dan Persatuan Indonesia di
Jakarta.
Kegiatan PNI ini cepat menarik massa dan hal ini sangat
mencemaskan pemerintah kolonial Belanda. Pengawasan terhadap
kegiatan politik dilakukan semakin ketat bahkan dengan tindakantindakan
penggeledahan dan penangkapan.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2006
Gambar 5.13 Ir. Soekarno,
orator ulung yang berasal
dari PNI.
142 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
Dengan berkembangnya desas desus bahwa PNI akan mengadakan
pemberontakan, maka empat tokoh PNI yaitu Ir. Soekarno,
R. Gatot Mangkuprojo, Markun Sumodiredjo, dan Supriadinata
ditangkap dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan Bandung. Dalam
proses peradilan itu, Ir. Soekarno dengan kepiawaiannya melakukan
pembelaan yang diberi judul “Indonesia Menggugat”.
Penangkapan terhadap para tokoh pemimpin PNI merupakan
pukulan berat dan menggoyahkan keberlangsungan partai. Dalam
suatu kongres luar biasa yang diadakan di Jakarta pada tanggal
25 April 1931, diambil keputusan untuk membubarkan PNI. Pembubaran
ini menimbulkan pro dan kontra. Mr. Sartono kemudian
mendirikan Partindo. Mereka yang tidak setuju dengan pembubaran
masuk dalam Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru)
yang didirikan oleh Drs. Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir.
Baik Partindo maupun PNI Baru, masih memakai asas PNI
yang lama yaitu self help dan nonkooperasi. Namun di antara
keduanya terdapat perbedaan dalam hal strategi perjuangan.
PNI Baru lebih mengutaman pendidikan politik dan sosial,
sedangkan Partindo mengutamakan aksi massa sebagai senjata
yang tepat untuk mencapai kemerdekaan.
7. Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik
Kebangsaan Indonesia (PPPKI)
PPPKI dibentuk di Bandung pada tanggal 17 – 18 Desember
1927. Beranggotakan organisasi-organisasi seperti Partai Sarekat
Islam Indonesia (PSII), Budi Utomo (BU), PNI, Pasundan, Sumatranen
Bond, Kaum Betawi, dan Kaum Studi Indonesia. Tujuan dibentuknya
PPPKI yaitu:
a. menghindari segala perselisihan di antara anggota-anggotanya;
b. menyatukan organisasi, arah, serta cara beraksi dalam perjuangan
kemerdekaan Indonesia; dan
c. mengembangkan persatuan kebangsaan Indonesia.
Pembentukan organisasi PPPKI sebagai ide persatuan sejak
awal mengandung benih-benih kelemahan dan keretakan. Berikut
ini ada beberapa faktor yang menyebabkan keretakan tersebut.
a. Masing-masing anggota lebih mementingkan loyalitas pada
masing-masing kelompoknya.
b. Kurangnya kontrol pusat terhadap aktivitas lokal.
c. Perbedaan gaya perjuangan di antara organisasi-organisasi
anggota PPKI tersebut.
8. Partai Indonesia (Partindo)
Ketika Ir. Soekarno yang menjadi tokoh dalam PNI ditangkap
pada tahun 1929, maka PNI pecah menjadi dua yaitu Partindo dan
PNI Baru. Partindo didirikan oleh Sartono pada tahun 1929. Sejak
awal berdirinya Partindo memiliki banyak anggota dan terjun dalam
aksi-aksi politik menuju Indonesia Merdeka.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.14 Sutan
Syahrir
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 143
Dasar Partindo sama dengan PNI yaitu nasional. Tujuannya
adalah mencapai Indonesia merdeka. Asasnya pun juga sama yaitu
self help dan nonkooperasi.
Partindo semakin kuat setelah Ir. Soekarno bergabung ke
dalamnya pada tahun 1932, setelah dibebaskan dari penjara. Namun,
karena kegiatan-kegiatannya yang sangat radikal menyebabkan
pemerintah melakukan pengawasan yang cukup ketat. Karena tidak
bisa berkembang, maka tahun 1936 Partindo bubar.
9. Partai Indonesia Raya (Parindra)
Perjuangan radikal yang dilakukan oleh PKI, PI, dan PNI mulai
berakhir ketika pemerintah kolonial Belanda melakukan penangkapan
terhadap sejumlah tokoh PNI. Di samping itu pemerintah kolonial di
bawah Gubernur Jenderal de Jonge melakukan pengawasan yang ketat
terhadap organisasi-organisasi yang ada pada masa itu.
Melihat kondisi tersebut, para tokoh pergerakan mengubah garis
perjuangannya. Dari yang semula radikal dan nonkooperasi menjadi
moderat dan kooperasi dengan menempatkan wakilnya dalam
volksraad. Salah satu organisasi yang bersifat moderat adalah Partai
Indonesia Raya (Parindra).
Parindra didirikan di kota Solo oleh dr. Sutomo pada tanggal
26 Desember 1935. Parindra merupakan fusi dan Budi Utomo
dan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Tujuan Parindra adalah
mencapai Indonesia Raya.
Asas politik Parindra adalah insidental, artinya tidak berpegang
pada asas kooperasi maupun nonkooperasi. Sikapnya
terhadap pemerintah tergantung pada situasi dan kondisi yang
dihadapi, jadi luwes.
Tokoh-tokoh Parindra yang terkenal dalam membela
kepentingan rakyat di volksraad adalah Moh. Husni Thamrin.
Parindra berjuang agar wakil-wakil volksraad semakin bertambah
sehingga suara yang berhubungan dengan upaya
mencapai Indonesia merdeka semakin diperhatikan oleh
pemerintah Belanda. Perjuangan Parindra dalam volksraad
cukup berhasil, terbukti pemerintah Belanda mengganti istilah
inlandeer menjadi Indonesier.
10. Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)
Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) didirikan di Jakarta
pada tanggal 24 Mei 1937 oleh orang-orang bekas Partindo.
Tokoh-tokohnya antara lain Sartono, Sanusi Pane, dan Moh.
Yamin.
Dasar dan tujuannya adalah nasional dan mencapai
Indonesia Merdeka. Gerindo juga menganut asas insidental
yang sama dengan Parindra. Tujuan Gerindo antara lain:
a. mencapai Indonesia Merdeka,
b. memperkokoh ekonomi Indonesia,
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.15 Moh Husni
Thamrin, sangat terkenal
akan perjuangannya
dalam Volsraad
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.16 Moh. Yamin
144 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
c. mengangkat kesejahteraan kaum buruh, dan
d. memberi bantuan bagi kaum pengangguran.
11. Gabungan Politik Indonesia (Gapi)
Pada tanggal 15 Juli 1936, partai-partai politik dengan dipelopori
oleh Sutardjo Kartohadikusumo mengajukan usul atau petisi, yaitu
permohonan supaya diselenggarakan suatu musyawarah antara wakilwakil
Indonesia dan negara Belanda di mana anggotanya mempunyai
hak yang sama. Tujuannya adalah untuk menyusun suatu rencana
pemberian kepada Indonesia suatu pemerintah yang berdiri sendiri.
Namun usul tersebut ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda.
Adanya kekecewaan terhadap keputusan pemerintah Belanda
tersebut, atas prakarsa Moh. Husni Thamrin pada tanggal 21 Mei
1939, dibentuklah Gabungan Politik Indonesia (Gapi). Berikut ini
ada beberapa alasan yang mendorong terbentuknya Gapi.
a. Kegagalan petisi Sutarjo. Petisi ini berisi permohonan agar
diadakan musyawarah antara wakil-wakil Indonesia dan
Belanda. Tujuannya adalah agar bangsa Indonesia diberi
pemerintahan yang berdiri sendiri.
b. Kepentingan internasional akibat timbulnya fasisme.
c. Sikap pemerintah yang kurang memerhatikan kepentingan
bangsa Indonesia.
Tujuan Gapi adalah menuntut pemerintah Belanda agar
Indonesia mempunyai parlemen sendiri, sehingga Gapi mempunyai
semboyan Indonesia Berparlemen.
Tuntutan Indonesia Berparlemen terus diperjuangkan dengan
gigih. Akhirnya pemerintah Belanda membentuk komisi yang
dikenal dengan nama Komisi Visman karena diketuai oleh Dr.
F.H.Visman. Tugas komisi ini adalah menyelidiki dan mem-pelajari
perubahan-perubahan ketatanegaraan. Namun, setelah melakukan
penelitian, Komisi Visman mengeluarkan kesimpulan yang
mengecewakan bangsa Indonesia.
Menurut komisi tersebut, sebagian besar rakyat Indonesia
berkeinginan hidup dalam ikatan Kerajaan Belanda. Gapi
menolak keputusan tersebut, sebab dianggap hanya rekayasa
Belanda dan bertentangan dengan keinginan rakyat Indonesia.
12. Organisasi Keagamaan
Muhammadiyah adalah organisasi Islam modern yang
didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 oleh
K.H. Ahmad Dahlan. Muhammadiyah berarti umat Muhammad
atau pengikut Muhammad. Dengan nama ini memiliki harapan
dapat mencontoh segala jejak perjuangan dan pengabdian Nabi
Muhammad. Tujuan yang ingin dicapai adalah:
a. memajukan pengajaran berdasarkan agama Islam, dan
b. memupuk keimanan dan ketaqwaan para anggotanya.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.17 K.H. Ahmad
Dahlan
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 145
Dalam rangka mencapai tujuan itu, Muhammadiyah
melakukan beberapa upaya berikut.
a. Mendirikan sekolah-sekolah (bukan pondok
pesantren) dengan pengajaran agama dan
kurikulum yang modern.
b. Mendirikan rumah sakit dengan nama Pusat
Kesengsaraan Umum (PKU).
c. Mendirikan rumah yatim piatu.
d. Mendirikan perkumpulan kepanduan Hisbul
Wathan.
Dalam perkembangannya, Muhammadiyah
menghadapi tantangan dari golongan Islam konservatif.
Mereka melihat Muhammadiyah begitu terbuka terhadap
kebudayaan Barat sehingga khawatir kemurnian Islam akan
dirusakkan. Oleh karena itu para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama
pada tahun 1926. Gerakan NU dipelopori oleh K.H. Hasyim Asy’ari.
Gerakan Muhammadiyah banyak mendapat simpati termasuk
pemerintah kolonial Belanda karena perjuangannya tidak bersifat
konfrontatif (menentang). Dalam Kongres Muhammadiyah yang
berlangsung dari tanggal 12 – 17 Maret 1925 di Yogyakarta, diperbincangkan
masalah-masalah yang berkaitan dengan pengajaran
Islam, mass media Islam, dan buku-buku tentang Islam yang berbahasa
Jawa.
Di samping Muhammadiyah, gerakan keagamaan lain yang
memiliki andil bagi kemajuan bangsa antara lain, berikut ini.
a. Jong Islamienten Bond, berdiri tanggal 1 Januari 1925 di Jakarta.
b. Nahdlatul Ulama (NU), berdiri pada tanggal 31 Januari 1926
di Surabaya, Jawa Timur.
c. Nahdlatul Wathan, berdiri tahun 1932 di Pacor, Lombok Timur.
13. Organisasi Pemuda dan Wanita
Perkumpulan pemuda yang pertama berdiri adalah Tri Koro
Dharmo. Organisasi ini berdiri pada tanggal 7 Maret 1915 di Jakarta
atas petunjuk Budi Utomo. Diprakarsai oleh dr. Satiman Wirjosandjojo,
Kadarman, dan Sunardi. Mereka mufakat untuk mendirikan organisasi
kepemudaan yang anggotanya berasal dari siswa sekolah menengah
di Jawa dan Madura. Perkumpulan ini diberi nama Tri Koro Dharmo
yang berarti tiga tujuan mulia (sakti, budhi, bakti).
Dalam perkembangannya, Tri Koro Dharmo membuka cabang
di Surabaya. Dalam rangka mengefektifkan perjuangan, diterbitkan
sebuah majalah yang juga diberi nama Tri Koro Dharmo. Berikut
ini tujuan Tri Koro Dharmo secara nyata dalam anggaran dasarnya.
a. Ingin menghidupkan persatuan dan kesatuan, di antara pemuda
Jawa, Sunda, Madura, Bali, dan Lombok.
K.H. Achmad Dahlan (1868-1923)
mempunyai nama kecil Muhammad
Darwis. Pada tanggal 18 November
1912, saudagar batik itu mendirikan
organisasi Muhammadiyah. Mulamula
KH. A. Dahlan sendiri yang
menjalankan berbagai macam
pekerjaan seperti tabligh, mengajar
di sekolah Muhammadiyah, memimpin
pengajian, dan mengumpulkan
pakaian untuk si miskin.
Jeli Jendela Info
146 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
b. Kerja sama dengan semua organisasi pemuda guna membentuk
ke-Indonesia-an. Keanggotannya terbatas pada para pemuda
Jawa, Sunda, Madura, Bali dan Lombok.
Tri Koro Dharmo memiliki asas-asas seperti berikut.
a. Menimbulkan pertalian antara murid-murid bumi putera pada
sekolah dan kursus perguruan kejuruan.
b. Menambah pengetahuan umum bagi anggota-anggotanya.
c. Membangkitkan dan mempertajam bahasa dan budaya Indonesia.
Organisasi kepemudaan lainnya yang bersifat kedaerahan banyak
bermunculan seperti Pasundan, Jong Sumatranen Bond, Jong
Minahasa, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Celebes, Timorees
Ver Bond, PPPI (Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia),
Pemuda Indonesia, Jong Islamienten Bond, kepanduan, dan
sebagainya.
Di samping gerakan para pemuda, kaum wanita juga
tidak mau ketinggalan. Pergerakan wanita dipelopori oleh
R.A.Kartini dari Jepara dengan mendirikan Sekolah Kartini.
Perkumpulan wanita yang didirikan sebelum tahun 1920
antara lain Putri Mardika yang didirikan atas bantuan Budi
Utomo. Perkumpulan ini bertujuan untuk memajukan
pengajaran terhadap anak-anak perempuan dengan cara
memberi penerangan dan bantuan dana, mempertinggi sikap
yang merdeka, dan melenyapkan tindakan malu-malu yang
melampaui batas.
Perkumpulan Kautamaan Istri didirikan pada tahun
1913 di Tasikmalaya, lalu pada tahun 1916 di Sumedang,
Cianjur, dan tahun 1917 di Ciamis, menyusul di Cicurug
tahun 1918. Tokoh Kautamaan Istri yang terkenal adalah
Raden Dewi Sartika, seorang pengajar Kautamaan Istri
di tanah Pasundan.
Di Yogyakarta pada tahun 1912 didirikan perkumpulan
wanita yang benafaskan Islam dengan
nama Sopa Tresna, yang kemudian pada tahun 1914
menjadi bagian wanita dari Muhammadiyah dengan
nama Aisyah. Di Yogyakarta selain Aisyah juga
ada perkumpulan wanita yang bernama Wanito
Utomo, yang mulai memasukkan perempuan ke
dalam kegiatan dasar pekerjaan ke arah
emansipasi.
Di samping R.A.Kartini dan Dewi Sartika,
masih terdapat seorang tokoh wanita yaitu Ibu
Maria Walanda Maramis dari Minahasa. Beliau
mendirikan perkumpulan yang bernama Percintaan
Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT) pada tahun
1917. PIKAT dalam kegiatannya mendirikan
Sekolah Kepandaian Putri.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.18 R.A.Kartini,
pejuang emansipasi wanita
Indonesia.
Sumber: Album Pahlawan Bangsa, 2004
Gambar 5.19 Dewi Sartika dan Maria
Walanda Maramis, tokoh pergerakan
wanita Indonesia.
Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara
pada tanggal 21 April 1879. Beliau
berasal dari kalangan bangsawan
Jawa, Putri dari Bupati Jepara
Raden Mas Sosroningrat. R.A.
Kartini adalah pejuang emansipasi
wanita. Pemikirannya tertuang
dalam buku Habis gelap Terbitlah
Terang.
Jeli Jendela Info
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 147
Dalam perkembangannya, perkumpulan-perkumpulan wanita itu
melaksanakan kongres yang dikenal dengan ‘Kongres Perempuan
Indonesia”. Lihat tabel 5.4.
Tabel 5.4 Kongres Perempuan Indonesia
Kongres Perempuan Indonesia I
Kongres perempuan yang pertama ini dilaksanakan tanggal 22 –25 Desember 1928 di
Jakarta. Perkumpulan wanita yang mengikuti antara lain Wanito Utomo, Putri Indonesia,
Wanita Katolik, Wanita Mulya, Aisyah, Wanudyo Utomo, Jong Islamienten Bond, Jong
Java bagian wanita, dan Wanita Taman Siswa. Tujuan kongres pada dasarnya ingin
mempersatukan cita-cita dan usaha untuk memajukan wanita Indonesia. Di samping itu
juga adanya hasrat untuk mengadakan gabungan atau membentuk perikatan di antara
perkumpulan-perkumpulan wanita tersebut.
Hasil yang dicapai dalam kongres adalah pembentukan gabungan atau federasi
perkumpulan wanita dengan nama Perikatan Perempuan Indonesia (PPI) yang dipimpin
Ny. Sukanto. Tujuan dari PPI adalah:
1) memberi penerangan dan perantaraan kepada perkumpulan yang menjadi anggotanya,
2) membantu dana belajar pada anak perempuan yang pandai,
3) mengadakan kursus kesehatan,
4) menentang perkawinan anak-anak, dan
5) memajukan kepanduan bagi anak-anak perempuan.
PPI sendiri dalam kongresnya pada tanggal 28-31 Desember 1929 di Jakarta, mengubah
nama PPI menjadi PPII (Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia). PPII memiliki asas
kebangsaan, persamaan, jiwa sosial, dan persamaan hak di antara laki-laki dan perempuan.
Pada bulan Januari 1931 PPII mengikuti Kongres Perempuan se-Asia di Lahore dengan
mengirim Nona Sunaryati Sukemi dan Ny. Rukmini Santoso. Ini berarti untuk yang pertama
kalinya pergerakan wanita Indonesia dapat berhubungan dengan pergerakan wanita
internasional.
Kongres Perempuan Indonesia II
Kongres perempuan yang kedua diadakan di Jakarta pada tanggal 20 sampai 24 Juli
1935, atas inisiatif PPII. Kongres ini dipimpin oleh Ny. Sri Mangunsarkoro dengan agenda
pembicaraan:
1) soal perburuhan perempuan,
2) pemberantasan buta huruf, dan
3) perkawinan
Kongres tidak dapat menyatakan sikap kaitannya dengan pembicaraan masalah
Ordonansi perkawinan, karena anggaran dasar menuntut suara bulat dalam memutuskan
suatu prinsip. Hal yang dapat disepakati adalah diputuskannya penyelenggaraan Kongres
Perempuan Indonesia setiap 3 tahun sekali.
Kongres Perempuan Indonesia III
Tiga tahun kemudian yaitu pada tanggal 23 – 28 Juli 1938 berlangsung Kongres
Perempuan Indonesia III di Bandung dengan pimpinan Ny. Emma Puradireja. Kongres
membicarakan tentang:
1) Undang-undang perkawinan modern,
2) soal politik kaitannya hak pilih dan dipilih bagi kaum wanita untuk posisi Badan
Perwakilan (volksraad), dan
3) tanggal 22 Desember untuk disepakati diperingati sebagai Hari Ibu.
Sumber: http: //id.wikipedia.org /wiki/Hari _Ibu, 2008
148 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
14. Sumpah Pemuda
Sumpah pemuda, tidak dapat lepas dari organisasi kepemudaan
yang bernama PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) yang
didirikan pada tahun 1926. PPPI mendapat dukungan dari sejumlah
organisasi kepemudaan seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond,
Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Minahasa, Jong Batak, dan Jong
Islamienten Bond dengan penuh keyakinan ingin mencapai
tujuannya yaitu persatuan Indonesia.
Para pemuda ini menginginkan suatu upaya penyatuan peletakan
dasar untuk kemerdekaan dengan menentang ketidakadilan
yang dialami selama masa penjajahan. Pertemuan awal dilaksanakan
tanggal 15 November 1925 dengan membentuk panitia
Kongres Pemuda I, yang bertugas menyusun tujuan kongres.
Diputuskan pelaksanaan kongres I mulai tanggal 30 April sampai
dengan 2 Mei 1926.
Tujuan Kongres Pemuda I adalah membentuk badan sentral,
memajukan paham persatuan kebangsaan, dan mempererat
hubungan di antara semua perkumpulan pemuda kebangsaan. Hal
yang menjadi agenda pembicaraan adalah tentang usulan bahasa
Indonesia yaitu bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Mengenai
usulan fusi untuk semua perkumpulan pemuda, tidak ada keputusan.
Setelah berlangsungnya kongres pertama, para pemuda
semakin tergerak untuk menindaklanjuti dengan melakukan
kongres berikutnya. Oleh karena itu, setelah diawali pertemuan
pendahuluan terbentuklah susunan panitia seperti berikut.
Ketua : Sugondo Joyopuspito
Wakil ketua : Djoko Marsaid
Sekretaris : Mohammad Yamin
Bendahara : Amir Syarifudin
Pembantu : Djohan Tjain, Kotjo Sungkono, Senduk, J. Leimena,
Rohjani.
Kongres Pemuda II berlangsung sejak tanggal 27 Oktober 1928
dan berakhir tanggal 28 Oktober 1928. Kongres Pemuda II diadakan
sebanyak tiga kali rapat.
a. Rapat pertama, di gedung Katolik Jonglingen Bond di
Waterloopein.
b. Rapat kedua, tanggal 28 Oktober pagi, di gedung Oost Java
Bioscoop, di Koningsplein Noord.
c. Rapat ketiga, tanggal 28 Oktober malam, di gedung Indonesische
Clubhuis di Jl. Kramat Raya 106 Jakarta.
Di ruang utama gedung Indonesische Clubhuis (rumah
perkumpulan Indonesia), yang sejak tanggal 20 Mei 1974 ditetapkan
sebagai gedung Sumpah Pemuda, Sugondo Joyopuspito
membacakan hasil keputusan Kongres (Mail Report No. 1066x/28
No. J/302-Eigenhandig) sebagai berikut:
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 149
Pertama : Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe,
Tanah Indonesia.
Kedua : Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, Bangsa
Indonesia.
Ketiga : Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean,
Bahasa Indonesia.
Sumber: Ensiklopedia Umum Untuk Pelajar, 2005
Kongres menetapkan ikrar/sumpah pemuda yang
selanjutnya menjadi landasan perjuangan untuk mencapai
Indonesia merdeka. Pada malam itu juga, untuk pertama kali
diperdengarkan lagu Indonesia Raya oleh penggubahnya
Wage Rudolf Supratman.
Sebagai tindak lanjut dari Sumpah Pemuda 1928, pada
tanggal 24 – 28 Desember 1928 di Yogyakarta para pemuda
menyepakati pembentukan Komisi Besar Indonesia Muda
(KBIM). Tugas komisi ini adalah mempersiapkan terbentuknya
satu wadah bagi semua Pemuda Indonesia. Hasil
kerja komisi ini terlihat dalam kongres pemuda di Surakarta
pada tanggal 31 Desember 1936 yang berhasil membentuk
organisasi Indonesia Muda (IM), yang merupakan fusi
(peleburan) dari berbagai organisasi pemuda di Indonesia.
Asas IM adalah kebangsaan Indonesia dan bertujuan untuk
mewujudkan Indonesia Raya. Para anggota IM dilarang bekerja
sama dengan pemerintah Belanda (bersifat nonkooperatif).
* Lahirnya kesadaran nasional Indonesia dipengaruhi oleh dua faktor yaitu
faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang berasal
dari dalam misalnya kenangan kejayaan masa lampau, dan adanya
penderitaan rakyat akibat penjajahan. Sedang faktor ekstern adalah faktor
dari luar seperti kemenangan Jepang atas Rusia dan gerakan nasionalisme
di berbagai negara Asia.
Sumber: Album Pahlawan
Bangsa, 2004
Gambar 5.20 Wage Rudolf
Supratman
Untuk lebih memahami tentang peranan pemuda di masa pergerakan nasional, buatlah
kelompok yang beranggotakan 4 – 5 orang kemudian carilah buku referensi di
perpustakaan yang membahas peranan pemuda dan pelajar. Langkah selanjutnya
buatlah sebuah karangan yang berisi perbandingan peranan pemuda dan pelajar di
masa pergerakan nasional dengan di masa pembangunan sekarang ini. Kerjakanlah
pada buku tugas kalian masing-masing!
Ajang Kreasi
150 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
Renungkanlah!
* Adanya sebuah tekad dan kemauan yang kuat untuk bersatu dapat
mengalahkan kekuatan yang lebih besar sekali pun itu penguasa. Belajar
dari pengalaman para pemuda di masa pergerakan nasional, dengan
memiliki tekad yang kuat dan satu tujuan Indonesia merdeka, maka dapat
mengalahkan tekanan-tekanan dan kebijakan keras dari pemerintah
kolonial Belanda.
* Berbekal dari kebulatan tekad para pemuda dalam Sumpah Pemuda 28
Oktober 1928, sebagai pemuda dan pelajar kita harus menjaga persatuan
dan kesatuan bangsa agar keutuhan negara RI tetap terjaga.
* Pada masa pergerakan nasional muncul banyak organisasi pergerakan. Masa
pergerakan nasional di Indonesia dapat dibagi dalam tiga tahap berikut.
a. Masa pembentukan, berdiri organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat
Islam, dan Indische Partij.
b. Masa radikal, berdiri organisasi seperti Perhimpunan Indonesia, Partai
Komunis Indonesia, dan Partai Nasional Indonesia.
c. Masa bertahan, berdiri organisasi seperti Parindra, Gerindo, dan Gapi.
Di samping itu juga berdiri organisasi-organisasi keagamaan, organisasi
pemuda dan kepanduan, serta organisasi perempuan.
* Puncak dari perjuangan dan kebulatan tekad pemuda untuk bersatu terjadi
pada Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928 yang berhasil
mencetuskan Sumpah Pemuda yang isinya mengakui satu bangsa, satu
tanah air, dan satu bangsa yaitu Indonesia. Hal ini berarti mengakui istilahistilah
Indonesia sebagai suatu identitas nasional.
A. Pilihlah jawaban yang paling tepat!
1. Tujuan yang sebenarnya Belanda membuka sekolah kolonial adalah untuk
… .
a. membalas budi rakyat Indonesia
b. meningkatkan derajat rakyat pribumi sehingga Pax Netherlandica dapat
terwujud
c. memberi kesempatan kepada rakyat pribumi untuk mengenyam pendidikan
d. mencetak tenga pendidikan yang murah dan terampil
2. Trilogi van Deventer meliputi tiga sektor yaitu … .
a. emigrasi, irigasi, edukasi c. migrasi, irigasi, edukasi
b. transmigrasi, irigasi, edukasi d. imigrasi, irigasi, asosiasi
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 151
3. Faktor ekstern yang mendorong lahirnya pergerakan nasional Indonesia
adalah … .
a. kenangan kejayaan masa lampau
b. ajaran Gandhiisme dari India
c. pengaruh pendidikan kolonial di Indonesia
d. dominasi ekonomi kaum Cina di Indonesia
4. Majapahit sebagai bangsa nasional yang pertama menjadi salah satu faktor
intern yang mendorong lahirnya pergerakan nasional Indonesia. Hal itu
disebabkan oleh … .
a. memiliki armada tentara yang kuat
b. memiliki konstitusi yang sekarang ditiru dalam UUD 1945
c. terdiri dari berbagai macam agama
d. wilayahnya meliputi hampir seluruh wilayah Indonesia
5. Sekolah yang didirikan oleh para tokoh nasionalis sering juga disebut
dengan sekolah kebangsaan sebab … .
a. bertujuan untuk menanamkan rasa nasionalisme di kalangan rakyat
b. terbuka untuk kaum pribumi dan Indo-Eropa
c. tidak menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar
d. kurikulumnya merupakan perpaduan antara kurikulum lokal dan penjajah
6. Kemenangan Jepang atas Rusia memberikan pengaruh positif bagi
pergerakan nasional Indonesia sebab … .
a. Jepang sebagai bangssa Asia mampu mengalahkan Rusia sehingga
membangkitkan kepercayaan Indonesia akan kekuatan sendiri
b. Jepang membantu perjuangan bangsa Indonesia berupa persenjataan
c. Indonesia dapat meminta bantuan Jepang untuk mendesak Belanda
d. kekalahan Rusia menandai kekalahan bangsa Eropa seluruhnya
7. Dalam perkembangannya, Budi Utomo bergerak sangat lambat karena … .
a. tidak adanya dukungan dana dari kaum priyayi
b. pemerintah kolonial melakukan pengawasan yang cukup ketat
c. menonjolnya kaum priyayi yang mengutamakan jabatan
d. tidak bergerak dalam bidang politik
8. Sarekat Dagang Islam diganti menjadi Sarekat Islam pada tanggal 10 September
1912 dengan maksud … .
a. agar menjangkau keanggotaan yang lebih luas
b. ada penyegaran di bawah pimpinan H.O.S Cokroaminoto
c. menghindari perpecahan di tubuh SDI
d. agar segera mendapatkan status berbadan hukum
9. Alasan Sarekat Islam mengadakan disiplin partai pada tahun 1921 adalah
… .
a. keanggotaannya tidak berasal dari kaum pedagang saja
b. adanya infiltrasi komunis sosialis dari ISDV
c. anggotanya banyak berpihak kepada Belanda
d. adanya pertentangan antara golongan Islam dan sekuler
152 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
10. Tokoh pemimpin Indische Partij yang dikenal sebagai Tiga Serangkai yaitu … .
a. Suwardi Suryaningrat, Cipto Mangunkusumo, H.O.S Cokroaminoto
b. Suwardi Suryaningrat, H.O.S Cokroaminoto, E.F.E. Douwes Dekker
c. Suwardi Suryaningrat, Cipto Mangunkusumo, E.F.E. Douwes Dekker
d. Suwardi Suryaningrat, H.O.S Cokroaminoto, H. Agus Salim
11. Untuk memperkuat kedudukannya, PKI melakukan cara … .
a. mengadu domba antarorganisasi pergerakan
b. melakukan infiltrasi dalam tubuh Sarekat Islam
c. meminta pemerintah Belanda agar PKI diberi status badan hukum
d. melakukan penyerangan terhadap para tokoh nasionalis sayap kanan
12. Dalam melaksanakan kegiatannya, Muhammadiyah mendapat kelonggaran
dari pemerintah kolonial Belanda sebab … .
a. Belanda bersikap acuh terhadap gerakan Islam yang fundamentalis
b. keberadaannya banyak menguntungkan Belanda
c. kegiatan Muhammadiyah tidak bersifat politik
d. Muhammadiyah meningkatkan kesejahteraan rakyat
13. Berikut ini yang bukan merupakan alasan Perhimpunan Indonesia mengalami
banyak tekanan dari pemerintah kolonial adalah … .
a. sifatnya yang radikal dan nonkooperatif
b. adanya pemberontakan PKI tahun 1926
c. para pemimpinnya sering mengeluarkan kritik kepada pemerintah kolonial
d. mendapat bantuan dari komintern
14. Adanya penangkapan terhadap para pemimpin PNI memberi dampak pada … .
a. bubar (pecahnya) PNI menjadi Partindo dan PNI Baru
b. pemerintah kolonial melonggarkan pengawasan
c. semakin kuatnya tuntutan untuk merdeka
d. munculnya Gapi yang menginginkan Indonesia Berparlemen
15. Salah satu alasan dibentuknya Gapi adalah kegagalan petisi Sutarjo yang
berisi tentang … .
a. penghapusan dan penggantian istilah Inlander menjadi Indonesisch
b. penggunaaan bahasa Indonesia dalam volksraad
c. keinginan membentuk pemerintahan sendiri
d. tuntutan untuk menjadi persemakmuran Belanda
16. Pengaruh Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 bagi perjuangan bangsa Indonesia
adalah … .
a. membangkitkan kesadaran nasional
b. Belanda mulai bersikap lunak kepada para tokoh nasionalis
c. mempercepat proses kemerdekaan
d. memperkuat tekad pada pemuda untuk bersatu
17. Tujuan yang ingin dicapai Perikatan Perempuan Indonesia antara lain … .
a. memajukan kepanduan bagi anak-anak perempuan
b. mengirimkan wakil perempuan dalam volksraad
c. menyamakan kedudukan wanita sejajar dengan pria
d. memperjuangkan kebebasan kaum wanita dari penindasan kolonial
Bab 5 Muncul dan Berkembangnya Pergerakan Nasional Indonesia 153
18. Parindra menggunakan asas insidental dalam gerak perjuangannya karena … .
a. beranggapan kerja sama dengan pemerintah kolonial sangat tidak
menguntungkan
b. ketatnya pengawasan pemerintah kolonial terhadap jalannya
pergerakan nasional
c. agar mendapat dukungan dari pemerintah kolonial
d. agar mudah mendapat simpati dari rakyat
19. Salah satu hasil keputusan Kongres Pemuda II yang dikenal sebagai ikrar/
sumpah pemuda yang benar adalah … .
a. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa
Indonesia
b. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air
Indonesia
c. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan,
bahasa Indonesia
d. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bangsa yang satu, bangsa
Indonesia
20. PPKI yang dibentuk sebagai ide persatuan ternyata akhirnya mengalami
keretakan yang disebabkan oleh faktor-faktor berikut, kecuali … .
a. adanya tekanan dari pemerintah kolonial Belanda
b. masing-masing anggota mementingkan kelompoknya sendiri
c. kurangnya kontrol pusat terhadap aktivitas lokal
d. perbedaan gaya perjuangan diantara anggota
B. Kerjakan soal-soal berikut!
1. Apakah tujuan Belanda membuka sekolah pada masa itu memang untuk
meningkatkan kecerdasan rakyat Indonesia? Uraikan pendapat kalian!
2. Mengapa kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1905 menjadi
pendorong lahirnya pergerakan nasional di Indonesia?
3. Mengapa pendidikan kebangsaan memegang peranan penting dalam
mencetak tokoh-tokoh pergerakan nasional?
4. Jelaskan latar belakang terbentuknya Sarekat Dagang Islam!
5. Mengapa tulisan R.M. Suwardi Suryaningrat yang berjudul als ik een Nederlander
was menyebabkan beliau ditangkap?
6. Sebutkan isi dari Manifesto Politik tahun 1925 yang dicetuskan oleh
Perhimpunan Indonesia!
7. Tunjukkan bukti bahwa SI merupakan organisasi massa pertama di Indonesia!
8. Bagaimanakah dampak kegagalan PKI tahun 1926 terhadap pergerakan
bangsa Indonesia?
9. Bagaimanakah peranan kaum perempuan dalam pergerakan nasional Indonesia?
Bandingkan dengan peranan kaum perempuan pada masa sekarang!
10. Jelaskan arti penting Sumpah Pemuda dalam kerangka sejarah Indonesia!
154 Ilmu Pengetahuan Sosial VIII
Penyimpangan sosial
Bentuk penyimpangan
Di keluarga Di masyarakat
Berdasarkan kadar
penyimpangan
* Penyimpangan primer
* Penyimpangan
sekunder
Berdasarkan sifatnya
* Penyimpangan
positif
* Penyimpangan
negatif
Berdasarkan pelaku
* Penyimpangan individu
* Penyimpangan kelompok
* Penyimpangan campuran
Menimbulkan bebagai bentuk penyakit
sosial dalam masyarakat
Upaya pencegahan perilaku
menyimpang di lingkungan rumah,
sekolah dan masyarakat
PETA KONSEP
BAB 6 PENYAKIT SOSIAL SEBAGAI AKIBAT
PENYIMPANGAN SOSIAL DAN UPAYA PENCEGAHANNYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: